Warga RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, terus didorong untuk membiasakan praktik pemilahan sampah dari rumah guna mengurangi beban limbah di wilayah tersebut. Edukasi intensif tetap dilakukan mengingat belum seragamnya kesadaran sosial warga dalam memilah sampah rumah tangga pada Jumat (8/5/2026).
Program yang dilansir dari Megapolitan ini sebenarnya telah diinisiasi sejak tahun lalu, namun kembali digencarkan pada Februari 2026. Meski fasilitas telah disediakan, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan utama yang dihadapi para kader lingkungan setempat.
Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07, Rorotan, Nani Darsonowati menjelaskan bahwa perbedaan sudut pandang warga menjadi hambatan dalam pelaksanaan program ini secara menyeluruh di lapangan.
"Kendalanya memang bertahap, karena enggak semuanya sama. Pemikiran dan hati nurani sosial tiap warga itu belum semuanya sama. Jadi sampai saat ini kita edukasi enggak berhenti untuk memilah sampah," kata Nani Darsonowati, Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07.
Sejumlah warga pada awalnya merasa keberatan dan menganggap aktivitas memilah sampah hanya menambah beban pekerjaan rumah tangga mereka tanpa memberikan keuntungan finansial secara langsung.
"Ada juga warga yang bilang, ‘Kok kita disuruh milah sih? Ini sampah yang kita pilah emang kalau ditimbang ada uangnya?’" ujar Nani Darsonowati, Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07.
Meski terdapat penolakan, Nani menyebutkan bahwa penyediaan sarana seperti ember, tong drop point, hingga lubang sisa dapur (losida) mulai menarik minat warga untuk berpartisipasi.
Lurah Rorotan, Ahmad Fitroh mengungkapkan bahwa kebijakan saat ini difokuskan pada pemilahan dua jenis sampah utama, yaitu organik dan anorganik, agar lebih mudah dipahami masyarakat.
"Masyarakat kan tidak semuanya paham kaitan dengan pemilahan sampah menjadi empat jenis itu. Kita mainkan untuk dua dulu," kata Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.
Langkah ini diklaim mulai memberikan hasil nyata bagi warga yang telah disiplin memilah, terutama terkait kebersihan dan kenyamanan aroma di lingkungan tempat tinggal mereka.
"Ketika edukasi masuk, masyarakat akhirnya merasa di rumahnya jadi tidak bau. Karena setelah dipilah, sampah organiknya hari itu juga langsung dibuang," ujar Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.
Pemerintah setempat mengandalkan kolaborasi lintas organisasi mulai dari pengurus RW, PKK, hingga Dasawisma untuk memberikan teladan langsung kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah.
"Dari situ, saya mempunyai keyakinan bahwa lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah ini sebetulnya kan banyak. Kami berkolaborasi semuanya untuk memberikan contoh kepada masyarakat," tambah Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.