Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai Bank Indonesia tidak perlu menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate meskipun nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.733 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Langkah mempertahankan suku bunga tersebut disarankan demi menjaga sektor riil agar tidak memikul beban biaya ekspansi yang semakin tinggi di tengah penguatan mata uang dolar AS.
"Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector, yang sekarang banyak yang terpukul akibat posisi valas dolar yang nilainya mahal, dan juga biaya untuk ekspansi bisnis jadi lebih mahal juga," kata Myrdal saat dihubungi Bloomberg Technoz, Selasa (19/5/2026).
Pelemahan mata uang garuda ini dipicu oleh tekanan global yang kuat, keluarnya modal asing, serta faktor musiman seperti transfer dividen dan musim haji yang meningkatkan permintaan greenback.
"Faktor musimannya bisa berupa transfer dividen, keluar, ataupun juga haji ya. Nah, kalau kondisinya begitu, sebenarnya untuk nilai tukar rupiah bisa lebih kuat lagi asalkan ekspor itu bisa dimaksimalkan konversinya. Jadi, jangan sampai eksportir itu menahan untuk konversi valas ke rupiah. Plus ditambah juga adanya langkah intervensi moneter yang agresif dilakukan oleh BI," katanya.
Myrdal menambahkan bahwa Bank Indonesia memiliki kapasitas cadangan devisa sebesar US$146,1 miliar per April untuk berani mempertahankan suku bunga acuan.
Sektor eksportir, terutama di bidang manufaktur dan hilirisasi, serta sektor pariwisata dinilai masih memiliki banyak peluang untuk mendatangkan pasokan valuta asing ke dalam negeri.
"Sehingga suplai valas di dalam negeri juga bisa bertambah dan rupiah kita juga bisa terdorong lebih kuat," kata Myrdal.
Data terakhir Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya pelebaran surplus perdagangan karena aktivitas impor menurun akibat para importir yang keberatan dengan penguatan dolar AS.
"Jadi ekspansi mereka menurun, sehingga ekspor dengan impor gapnya itu semakin lebar dengan ekspor yang mencatat surplus yang lebih besar. Nah, dengan kondisi seperti sekarang, tekanan yang terjadi di rupiah itu pure bukan dari real sector atau bukan dari aktivitas ekspor-impor," kata Myrdal.
Melalui intervensi moneter yang agresif, Bank Indonesia diproyeksikan mampu mengantisipasi potensi keluarnya modal asing di pasar keuangan.
"Karena kalau untuk potensi outflow di pasar keuangan, saya rasa itu terbatas ya. Dan BI punya kapasitas untuk membendung itu," katanya.