Ekonom CORE Indonesia Sarankan Investor Sesuaikan Strategi Alokasi Aset

Ekonom CORE Indonesia Sarankan Investor Sesuaikan Strategi Alokasi Aset

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi pasar menuntut investor untuk lebih cermat dalam menyusun strategi alokasi aset portofolio investasi mereka pada Jumat (5/6/2026).

Kondisi komposisi portofolio tersebut perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, horizon waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor, seperti dilansir dari Investasi.

"Bagi investor konservatif, fokus utamanya adalah menjaga nilai modal dan likuiditas. Karena itu, mayoritas portofolio dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang dan obligasi negara tenor pendek, dengan porsi terbatas pada emas dan saham defensif," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Yusuf memperkirakan investor konservatif dapat mengalokasikan sekitar 40 persen portofolio ke reksa dana pasar uang dan 30 persen ke obligasi negara tenor pendek. Sisa dana dapat dibagi masing-masing 15 persen pada emas yang berfungsi sebagai lindung nilai ketidakpastian global serta saham defensif sektor konsumsi dan utilitas yang memiliki arus kas stabil.

Untuk investor dengan profil risiko moderat, Yusuf menyarankan alokasi seimbang sekitar 55 persen pada reksa dana pendapatan tetap dan 45 persen pada saham. Akumulasi saham diimbau dilakukan secara bertahap karena tekanan terhadap sentimen pasar belum sepenuhnya mereda.

"Jika ingin mempertahankan cadangan likuiditas, komposisinya dapat disesuaikan menjadi sekitar 50% pendapatan tetap, 40% saham, dan 10% pada instrumen cadangan seperti kas atau emas," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Sementara bagi investor agresif, koreksi pasar yang terjadi membuka peluang menarik karena valuasi saham saat ini sudah jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir. Investor agresif dapat menempatkan sekitar 60 persen portofolio pada saham, 20 persen pada obligasi atau pendapatan tetap, serta masing-masing 10 persen pada emas dan instrumen likuid.

"Cadangan likuiditas ini penting sebagai amunisi untuk memanfaatkan peluang apabila pasar kembali mengalami koreksi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Yusuf menekankan satu prinsip yang tetap relevan bagi seluruh investor, yakni menerapkan strategi masuk pasar secara bertahap atau bertingkat karena kondisi saat ini belum sepenuhnya kondusif akibat ketidakpastian kebijakan.

"Ketika ditanya apakah saat ini lebih baik mengakumulasi aset atau menjaga likuiditas, jawabannya adalah keduanya harus berjalan bersamaan. Valuasi pasar memang sudah jauh lebih menarik setelah koreksi yang cukup dalam sehingga mulai terlihat sebagai periode akumulasi. Namun proses masuk ke pasar sebaiknya tetap dilakukan secara bertahap," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Investor perlu mempertahankan cadangan likuiditas agar memiliki fleksibilitas ketika volatilitas meningkat atau muncul peluang membeli aset pada harga yang lebih rendah.

Terdapat lima indikator utama yang perlu dicermati investor dalam beberapa bulan mendatang, yaitu keputusan lembaga pemeringkat internasional pasca-keputusan Moody's, arah aliran dana asing, pergerakan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun, pergerakan indeks dolar AS dan harga minyak dunia, serta konsistensi kebijakan fiskal pemerintah.

"Stabilitas rupiah dalam jangka panjang pada akhirnya sangat bergantung pada keyakinan pasar terhadap pengelolaan fiskal yang kredibel," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi