Sejumlah ekonom mendesak pemerintah untuk memperkuat instrumen fiskal dengan menunda program-program besar yang menguras APBN akibat tingginya harga minyak mentah dunia pada Rabu (3/6/2026).
Langkah penundaan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai krusial karena defisit fiskal kuartal I telah menyentuh 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dilansir dari Investasi.
Ferry menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berstatus importir minyak mentah di tengah harga pasar yang bertahan tinggi di atas US$ 90 per barel.
"Yang bisa digunakan adalah instrumen fiskal. Perkuatlah fiskal kita dengan menunda program – program yang menghabiskan APBN dengan sangat dahsyat. Misalnya program makan bergizi gratis (MBG), itu bisa ditunda," ujar Ferry.
Ia menambahkan bahwa lonjakan harga minyak mentah ikut memicu kenaikan biaya bahan baku industri, transportasi, logistik, hingga harga pangan akibat pelemahan nilai tukar.
"Kalau sampai current account kita defisit, APBN kita defisit, ini gawat, saya wanti – wanti ke pemerintah jangan sampai terjadi," kata Ferry.
Selain masalah komoditas, sorotan juga diarahkan pada lembaga rating S&P yang berpotensi menurunkan rating Indonesia akibat kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
"Kebijakan – kebijakan pemerintah yang membuat investor asing tidak percaya," jelas Ferry.
Mengenai proyeksi nilai tukar, Ferry memperkirakan rupiah bisa menyentuh Rp 22.000 per dolar AS pada Juli 2026 dan melemah hingga Rp 25.000 pada akhir tahun.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai peningkatan BI Rate ke level 5,25 persen sebelumnya hanya mampu menahan pelemahan rupiah sesaat.
"Sementara sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur: impor energi, arus keluar modal, kebutuhan dolar musiman, tekanan fiskal, dan keraguan terhadap arah kebijakan," ujar Josua.
Menurut Josua, pergerakan mata uang di Asia tetap berada dekat level terlemahnya lantaran pengetatan kebijakan suku bunga oleh bank sentral hanya memberikan dukungan dangkal.
"Jika ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah bisa mulai bergerak lebih stabil pada semester II, tetapi jika salah satunya gagal, tekanan ke Rp18.000 tetap terbuka," terang Josua.
Sentimen mendatang akan dipengaruhi oleh tensi AS-Iran, harga minyak, kredibilitas fiskal, kebijakan DHE SDA, faktor musiman seperti pembayaran utang luar negeri, serta konversi rupiah terkait isu MSCI.
"Jadi, rupiah semester II tidak hanya ditentukan oleh BI, tetapi oleh kombinasi antara pasar global, APBN, ekspor, impor, dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan," ujar Josua.
Untuk semester II 2026, Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS, dengan peluang menguat ke Rp 17.000 sampai Rp 17.300 jika situasi geopolitik membaik.
Pandangan lain datang dari Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas Syafruddin Karimi yang merinci lima faktor penentu rupiah, termasuk yield aset dolar dan kinerja eksternal.
"Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh," ucap Syafruddin.
Syafruddin memproyeksikan rupiah pada semester II 2026 berpotensi bergerak pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.150 sampai Rp 18.250.