Sejumlah ekonom memastikan dana simpanan masyarakat di perbankan nasional tetap aman meskipun nilai tukar rupiah terus bergejolak hingga melampaui level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Masyarakat diimbau tidak panik dalam mengambil keputusan finansial agar tetap sesuai dengan profil risiko.
Kondisi pelemahan rupiah ini dilaporkan oleh Money terjadi sepanjang Mei 2026 dengan pergerakan dari kisaran Rp 17.400 hingga menembus Rp 17.500. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026 mencatat likuiditas perbankan masih memadai dengan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai Rp 10.231 triliun.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menekankan pentingnya memilih bank yang diawasi otoritas resmi untuk menjamin keamanan dana. Ia juga mengingatkan agar nasabah memperhatikan batas bunga penjaminan yang telah ditetapkan.
"Jadi menyimpan dana di bank masih aman sepanjang masyarakat memilih bank yang diawasi OJK dan memastikan simpanannya memenuhi ketentuan penjaminan LPS, termasuk tidak mengejar bunga yang terlalu tinggi di luar ketentuan penjaminan," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Josua juga memberikan saran terkait pengelolaan dana darurat di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Menurutnya, kebutuhan dana untuk jangka pendek sebaiknya tetap disimpan dalam mata uang domestik guna menghindari risiko spekulasi.
"Dana darurat dan kebutuhan 3 sampai 6 bulan tetap sebaiknya disimpan dalam rupiah di rekening tabungan atau deposito karena pengeluaran sehari-hari mayoritas tetap rupiah," ucap Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Pilihan instrumen investasi seperti deposito atau logam mulia harus disesuaikan dengan jangka waktu pemakaian dana tersebut. Josua menilai setiap instrumen memiliki fungsi yang berbeda dalam melindungi nilai aset nasabah.
"Deposito rupiah cocok untuk dana aman jangka pendek. Emas bisa menjadi pelindung nilai jangka menengah," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Terkait kepemilikan valuta asing, Josua menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan urgensi kebutuhan mata uang tersebut. Ia memperingatkan potensi kerugian jika masyarakat membeli dollar AS tanpa perhitungan kebutuhan riil.
"Jika semua penghasilan dan pengeluaran dalam rupiah, memiliki terlalu banyak dollar justru bisa menjadi spekulasi yang berisiko," ungkap Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Kepala Ekonom BCA David Sumual juga memberikan pandangan serupa mengenai ketahanan dana nasabah di bank. Ia menyoroti peran pemerintah dalam menjamin keamanan simpanan melalui lembaga resmi.
"Sangat aman. Perhatikan limit suku bunga penjaminan yang diumumkan LPS. Selama masih di bawah suku bunga penjaminan, jika ada masalah pada bank, dana dijamin pemerintah," ucap David Sumual, Kepala Ekonom BCA.
David menyarankan agar masyarakat tetap menjaga ketersediaan uang tunai untuk kebutuhan mendesak. Pengalihan aset harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan ketersediaan likuiditas pribadi.
"Proporsional saja untuk kebutuhan likuiditas dan siaga jika harga aset jatuh, perlu siapkan dana cash juga," tegas David Sumual, Kepala Ekonom BCA.
Perencana keuangan Finansialku.com Melvin Mumpuni menyatakan bahwa struktur perbankan saat ini memiliki modal yang jauh lebih kuat dibanding masa krisis sebelumnya. Syarat penjaminan simpanan maksimal Rp 2 miliar per nasabah menjadi jaminan utama keamanan tersebut.
"Masyarakat tidak perlu panik. Menyimpan dana di perbankan Indonesia saat ini masih sangat aman," tegas Melvin Mumpuni, Perencana Keuangan Finansialku.com.
Melvin menambahkan bahwa risiko kerugian mengintai masyarakat yang terburu-buru membeli dollar AS saat nilai tukar sudah melemah tajam. Pilihan instrumen simpanan tetap harus mengacu pada arus kas harian individu.
"Jika Rupiah kembali menguat, Anda berpotensi rugi. Jadi, masuk ke dollar AS hanya jika Anda memiliki kebutuhan riil dalam mata uang tersebut di masa depan," imbuh Melvin Mumpuni, Perencana Keuangan Finansialku.com.
Melvin menyarankan penggunaan deposito bagi dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat karena menawarkan stabilitas bunga. Namun, rupiah tetap menjadi pilihan utama untuk transaksi rutin harian.
"Kalau memang dananya tidak ada kebutuhan misalnya untuk cash flow ataupun untuk transaksi-transaksi dalam waktu dekat, seperti itu deposito tentu akan lebih tepat," ucap Melvin Mumpuni, Perencana Keuangan Finansialku.com.
Pakar dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menilai bank masih menjadi tempat yang ideal bagi pemilik profil risiko konservatif. Keputusan untuk tetap menyimpan di bank dianggap tepat selama tidak ada keperluan mendesak.
"Kalau memang tidak ada kebutuhan yang mendesak, terus kemudian memang tidak ada dan orang tersebut secara profil risikonya juga mungkin cenderung yang moderat ataupun konservatif, ya itu silakan aja tetap taruh di bank aja," kata Andy Nugroho, Perencana Keuangan MRE.
Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan turut mengonfirmasi ketangguhan perbankan nasional dalam menghadapi tekanan global. Meskipun emas dianggap relevan untuk melawan inflasi, ketersediaan aset likuid di bank tetap menjadi prioritas.
"Simpanan di bank masih aman, bank-bank kita relatif kuat dan tangguh," ujar Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI.