Ekonom Prediksi Kenaikan BI Rate Hingga 5 Persen Semester I 2026

Ekonom Prediksi Kenaikan BI Rate Hingga 5 Persen Semester I 2026

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI rate guna merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mencetak level terendah baru. Potensi pengetatan kebijakan moneter ini diprediksi akan terjadi pada semester pertama tahun 2026.

Dilansir dari Money, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa fokus utama otoritas moneter saat ini telah bergeser untuk memprioritaskan stabilitas mata uang nasional. Penurunan suku bunga dianggap sulit dilakukan dalam kondisi tekanan eksternal yang tinggi.

"Ruang pemangkasan suku bunga semakin terbatas. Karena fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata pada Selasa (12/5/2026).

Josua menambahkan bahwa Bank Indonesia memiliki berbagai instrumen lain untuk melakukan intervensi di pasar keuangan. Langkah tersebut mencakup penggunaan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), Non Deliverable Forward (NDF), hingga operasi moneter secara intensif.

Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata, Faisal Rachman, memproyeksikan adanya kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 5 persen. Menurutnya, koreksi proyeksi ini dilakukan setelah melihat depresiasi rupiah yang telah melampaui angka 4 persen.

"Karena biasanya kalau kita lihat secara historikal, biasanya BI itu kalau sudah rupiah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," ungkap Faisal Rachman, Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata.

Faisal menyebutkan bahwa kenaikan tersebut kemungkinan besar akan dieksekusi pada periode Mei atau Juni 2026. Hal ini didorong oleh kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menjadi indikasi awal pengetatan kebijakan oleh bank sentral.

"Jadi ini kita memang perlu antisipasi. Tetapi memang risiko tadi itu ada dan kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan ke 5 persen itu terbuka ya saat ini," ucap Faisal Rachman, Head of Macroeconomics and Market Research Bank Permata.

Ekonom Senior DBS, Radhika Rao, turut mencermati perubahan sikap Bank Indonesia yang mulai menunjukkan kecenderungan hawkish. Ia menekankan bahwa lonjakan harga energi global akibat penutupan Selat Hormuz bisa menjadi pemicu inflasi domestik yang memaksa kenaikan suku bunga.

"Skenario dasar kami adalah BI akan tetap stabil pada kuartal ini tetapi melihat kemungkinan yang meningkat untuk kenaikan bertahap guna mempertahankan mata uang pada kuartal kedua," ucap Radhika Rao, Ekonom Senior DBS dalam laporan yang dikutip pada Jumat (15/5/2026).

Radhika menjelaskan bahwa pelemahan rupiah hingga menembus Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat pada awal Mei 2026 menjadi perhatian serius bagi otoritas terkait. Kondisi ini diperberat oleh tren moderasi cadangan devisa serta faktor musiman berupa repatriasi dana ke luar negeri.

"Kami melihat peningkatan ini sebagai langkah terselubung untuk menaikkan suku bunga guna menarik arus yang sensitif terhadap suku bunga," tutur Radhika Rao, Ekonom Senior DBS.

Saat ini, selisih imbal hasil SRBI dengan BI rate dan obligasi jangka pendek dilaporkan semakin melebar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Bank Indonesia sebenarnya sudah mulai memperketat likuiditas di pasar meski belum mengubah suku bunga acuan secara formal dari level 4,75 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi