Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang didominasi oleh utang jangka panjang pemerintah dinilai masih relatif aman meskipun pelemahan mata uang rupiah dalam jangka pendek tetap harus diwaspadai akibat risiko ketidaksesuaian mata uang.
Kondisi eksternal tersebut disampaikan pada Senin (18/5/2026) seperti dilansir dari Nasional, di mana pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati angka Rp 17.700 per dolar AS menjadi perhatian utama.
"Namun pelemahan rupiah yang saat ini cukup signifikan (mendekati Rp 17.700 per dolar AS) perlu diwaspadai dalam jangka pendek karena risiko mismatch, karena penerimaan negara dominan dalam rupiah," kata David, Ekonom.
Sementara itu, penurunan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga menyentuh kisaran 29,5 persen menjadi sinyal positif yang menempatkan ketahanan finansial domestik berada di atas rata-rata negara berkembang lainnya.
"Pertumbuhan ULN yang relatif moderat sebenarnya memberi dua sinyal sekaligus. Di satu sisi ini mencerminkan pengelolaan utang yang lebih disiplin. Tetapi di sisi lain, perlambatan juga dipengaruhi suku bunga global yang tinggi dan mahalnya biaya lindung nilai," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Sektor swasta kini dilaporkan cenderung menahan diri untuk mencari pendanaan dalam bentuk valuta asing baru karena tingginya biaya investasi eksternal tersebut yang memicu kelesuan aktivitas pembiayaan global.
"Rasio ini memang indikator yang cukup baik. Tetapi harus dibaca bersama indikator lain seperti kemampuan penerimaan negara, rasio pembayaran utang terhadap ekspor, dan ruang fiskal pemerintah," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Menurutnya, ketahanan fiskal jangka panjang tidak hanya bertumpu pada nominal akumulasi utang melainkan pada produktivitas ekonomi nasional dalam menghimpun devisa guna menyelesaikan kewajiban finansial.
"Utang valas jangka panjang tetap harus dibayar dalam valuta asing. Ketika rupiah melemah, beban pembayaran dalam rupiah otomatis meningkat," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Ketergantungan pembiayaan ke depan diproyeksikan masih bertumpu pada penyerapan dana pemerintah mengingat korporasi swasta masih mengambil langkah mitigasi risiko di tengah volatilitas pasar keuangan.
"Ketika investor asing keluar, biasanya yield SBN naik, rupiah melemah, dan pasar saham ikut tertekan," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Penjagaan stabilitas ekonomi nasional memerlukan bauran instrumen dari otoritas moneter melalui intervensi pasar langsung maupun optimalisasi pasar domestik demi menahan dampak pembalikan modal asing.
"Kalau pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara tumbuh lebih cepat dari beban utang, maka ULN masih akan tetap sehat. Tapi jika tidak, ruang fiskal akan makin sempit," ujarnya Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.