Kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah yang sedang tertekan memicu munculnya fenomena lipstick effect. Dikutip dari Money, konsep ekonomi ini menggambarkan kebiasaan konsumen beralih membeli barang kecil yang terjangkau demi mendapatkan kepuasan emosional di tengah kesulitan keuangan.
Masyarakat kini cenderung menunda pembelian barang besar seperti kendaraan atau rumah. Sebagai pelarian, mereka memilih membelanjakan uang untuk komoditas perawatan pribadi, parfum, kopi, kosmetik, atau makan di luar rumah setelah menerima gaji.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal mengonfirmasi adanya peningkatan pembelian produk perawatan pribadi dan kosmetik. Perubahan perilaku konsumen ini mulai terdeteksi melalui pergerakan indeks penjualan ritel nasional.
"Kalau melihat beberapa indikator seperti indeks penjualan ritel itu ada beberapa items ritel yang mengalami peningkatan seperti perawatan pribadi," ujar Faisal.
Faisal menilai gejala ini sangat menarik karena terjadi di tengah kekhawatiran publik terhadap krisis ekonomi.
"Itu salah satu gejala yang menurut saya cukup menarik ya, di tengah tekanan daya beli, ya dan juga kekhawatiran terhadap krisis," ucap dia.
Meski begitu, data agregat yang tersedia saat ini belum mampu memetakan secara detail mengenai distribusi pembelian kosmetik berdasarkan kelas ekonomi masyarakat.
"Secara agregat ya, kita tidak tahu juga dari sisi distribusinya bagaimana, apakah masyarakat menengah, kaya, ataupun miskin. Tapi secara agregat memang ada peningkatan pembelian barang-barang yang sifatnya perawatan pribadi ya," ucap dia.
Bukan Sinyal Krisis Ekonomi Mendalam
Munculnya gejala lipstick effect dipandang Faisal belum bisa menjadi kesimpulan mutlak akan terjadinya resesi atau krisis ekonomi yang lebih parah.
"Saya rasa itu agak terlalu untuk saat sekarang ya, untuk kacamata sekarang terlalu jump to conclusion. Jadi terlalu cepat untuk menyimpulkan dan saya pikir belum sampai ke sana ya, untuk kacamata pada saat sekarang," jelas Faisal.
Tingginya perhatian masyarakat terhadap produk kesehatan serta perawatan pribadi merupakan kelanjutan dari tren yang terbentuk sejak enam tahun lalu.
"Karena fenomenanya itu terjadi bukan hanya pada saat sekarang, tapi juga sudah terjadi sejak pandemi. Jadi artinya sudah 6 tahun ya, sudah terjadi selama 6 tahun terakhir," kabar dia.
"Mungkin juga sejak pandemi ada concern atau juga perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan. Nah kemudian selain kesehatan juga jadinya pada perawatan pribadi termasuk juga ya kosmetik ya, seperti itu," tambah Faisal.
Imbauan Memprioritaskan Kebutuhan Primer
Masyarakat diharapkan dapat mengelola pengeluaran secara bijak serta lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar.
"Dalam kondisi di mana daya beli yang tertekan tentu saja kita berharap ya masyarakat tentu saja lebih lebih lebih bijaksana dalam hal spending, ya. Dan lebih mengutamakan yang lebih esensial tentu saja yang basic needs yang betul-betul lebih primer ya, daripada yang tersier," imbaunya.
Faisal berencana melakukan studi lebih lanjut untuk memetakan kelompok masyarakat yang paling dominan menggerakkan pasar kosmetik nasional.
"Kita perlu lihat juga apa kelompok masyarakat mana sebetulnya yang punya karakteristik untuk membeli barang-barang kosmetik tersebut dalam kondisi seperti sekarang? Apakah kalangan atas, menengah, calon kelas menengah, ya?" kata Faisal.
Kelompok masyarakat kelas atas dinilai tidak terpengaruh oleh situasi ekonomi saat ini dalam memenuhi kebutuhan sekunder mereka.
Sebaliknya, tekanan ekonomi yang panjang sejak beberapa tahun lalu terus membayangi kelompok masyarakat kelas menengah.
"Tapi kelas menengah ini sebetulnya mulai dari krisis pandemi maksud saya di 2020 yang lalu sampai dengan sekarang terus mengalami penurunan dari sisi daya beli dan jumlah orangnya itu juga mengalami penurunan," ungkap Faisal.
Walaupun proporsi belanja untuk pangan naik, volume penjualan komoditas kosmetik secara mengejutkan tetap ikut merangkak naik.
"Semestinya kalau melihat dari fenomena itu, kebutuhan akan basic needs itu tetap lebih harus diutamakan dibandingkan yang bukan basic needs. Tapi memang pada saat kalau lihat dari spending-nya memang basic needs mengalami peningkatan secara proporsi, tapi selain yang basic needs seperti pangan yang meningkat secara proporsinya, itu juga adalah barang-barang kosmetik ya, yang juga mengalami peningkatan," tutur Faisal.
Alarm Kecil Tekanan Daya Beli
Pandangan serupa disampaikan oleh Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Menurutnya, efek lipstik harus dibaca sebagai sinyal peringatan penurunan daya beli, bukan bukti krisis besar.
"Jadi, lipstick effect adalah alarm kecil," ucap dia.
Kondisi ini akan berubah menjadi lebih serius apabila dibarengi dengan merosotnya nilai tabungan, lonjakan kredit macet paylater, serta pelemahan konsumsi barang tahan lama.
Di Indonesia, fenomena ini dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, pendapatan yang mandek, ketidakpastian lapangan kerja, serta kuatnya budaya self-reward.
"Terutama karena media sosial dan promosi digital," ungkap Budi.
Masyarakat diminta tetap memprioritaskan alokasi dana untuk kebutuhan pokok, cicilan wajib, dana darurat, serta proteksi dasar.
"Yang berbahaya adalah ketika belanja kecil dilakukan terlalu sering, memakai paylater atau utang konsumtif," ungkap dia.
"Self-reward boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi pelarian finansial," ucap Budi.
Strategi Penurunan Kelas Produk
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa fenomena ini diperparah oleh strategi konsumen yang melakukan penurunan kelas produk atau downtrading.
“Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup,” jelas Yusuf.
Para pemangku kebijakan diharapkan berhati-hati dalam membaca pergerakan data konsumsi mikro yang saat ini terlihat aktif di pasar.
“Efek lipstik sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat,” tegas Yusuf.
Stagnasi pendapatan yang berlangsung lama berisiko menguras tabungan rumah tangga dan melemahkan daya tahan finansial keluarga.
“Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah,” ungkap Yusuf.
Stagnasi Akibat Kebijakan Ekonomi
Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono menyebut lipstick effect mencerminkan posisi kelas menengah yang stagnan.
"Kita ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ungkap Teguh.
Faktor pemicunya antara lain ketidakpastian dunia usaha serta pelemahan nilai tukar yang membuat investor menahan ekspansi.
"Ini membuat investor menahan untuk ekspansi," ucap Teguh.
Dampak situasi tersebut dirasakan langsung oleh kelas menengah yang akhirnya mengalihkan anggaran barang mewah besar ke barang mewah kecil.
"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," kata Teguh.
Sejarah Awal Fenomena
Istilah lipstick effect pertama kali populer setelah Leonard Lauder dari Estée Lauder menemukan data lonjakan penjualan lipstik pasca-serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Ekonom Juliet Schor kemudian memperkenalkan istilah ini secara formal untuk merujuk pada perilaku belanja barang mewah yang tetap terjangkau saat resesi.
Meskipun dahulu sering dikaitkan dengan motif menarik perhatian pasangan, penelitian terbaru menunjukkan motif yang berbeda.
Ekonom California State University, Yasemin Dildar menyatakan bahwa peningkatan pembelian produk kecantikan saat krisis berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan emosional.
“Itu hanyalah bentuk hiburan kecil,” kata Dildar seperti dikutip dari Bloomberg.
Pada periode resesi besar, konsumen terbukti memotong anggaran untuk pakaian atau perhiasan mahal, lalu menggantinya dengan produk murah yang tetap memberikan rasa puas.