Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Kontraksi 0,77 Persen

Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Kontraksi 0,77 Persen

Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia mengalami pengerutan atau kontraksi sebesar 0,77 persen pada triwulan I-2026 dibandingkan triwulan sebelumnya pada Selasa (5/5/2026). Meskipun secara tahunan tumbuh 5,61 persen, penurunan pada sektor pertambangan dan energi menjadi ancaman serius bagi ketahanan nasional.

Data yang dilansir dari Suara menunjukkan bahwa sektor Pertambangan dan Penggalian serta Pengadaan Listrik dan Gas masuk ke zona negatif. Masing-masing sektor strategis tersebut mencatatkan kontraksi sebesar 2,14 persen dan 0,99 persen yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas mesin pertumbuhan domestik.

Kondisi paling kritis terlihat pada performa sektor ekstraktif yang mengalami penurunan tajam dalam hitungan kuartal ke kuartal. Penurunan ini dinilai sangat berisiko karena tingginya ketergantungan negara terhadap komoditas tersebut.

"Kontraksi terdalam terjadi pada sektor Pertambangan dan Penggalian yang anjlok hingga 8,20 persen secara q-to-q. Ini sangat berbahaya mengingat ketergantungan kita pada sektor ini," ungkap laporan BPS.

Selain sektor energi, layanan publik dasar juga mencatatkan rapor merah pada periode awal tahun ini. Jasa Pendidikan mengalami kontraksi sebesar 6,89 persen, sementara Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial menurun 5,50 persen secara kuartalan.

Sektor Akomodasi dan Makan Minum memang mencatatkan angka pertumbuhan tinggi sebesar 13,14 persen, namun hal ini dianggap sebagai fenomena musiman. Sementara itu, Industri Pengolahan yang memegang peran 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto hanya tumbuh moderat di level 5,04 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi