Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan penguatan ekonomi nasional yang berkelanjutan seiring rencana keberangkatannya menunaikan ibadah haji pada 21 Mei 2026. Momentum ini bertepatan dengan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai angka 5,61 persen.
Purbaya menekankan pentingnya stabilitas ekonomi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat luas. Dilansir dari Money, pertumbuhan ekonomi yang stabil menjadi fokus utama dalam kebijakan fiskal pemerintah saat ini.
“Doanya pertumbuhan ekonomi makin cepat. Doa supaya ekonomi bagus terus, makin kuat, tiga tahun lagi kita kaya bareng-bareng,” ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ekonomi sebesar 5,6 persen merupakan sebuah prestasi luar biasa di tengah keterbatasan anggaran yang ada.
"Apalagi kemarin kita bisa berhasil (capai perekonomian 5,6 persen). Kalau saya bilang sih keajaiban ya. Dengan anggaran yang sama, tanpa uang tambahan, kita bisa menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat," tutur Purbaya, Menteri Keuangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/5/2026), pertumbuhan ekonomi periode ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen. Konsumsi rumah tangga menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi 2,94 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa daya beli masyarakat yang konsisten menjadi landasan utama pertumbuhan tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 salah satunya ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” ujar Amalia, Kepala BPS.
Aktivitas konsumsi tersebut dipicu oleh momentum hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idulfitri yang meningkatkan pergerakan masyarakat. Sektor transportasi, akomodasi, dan perdagangan mengalami dampak positif langsung dari peningkatan mobilitas ini.
Stabilitas ekonomi juga didukung oleh penguatan investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 5,96 persen. Selain itu, realisasi belanja pemerintah termasuk program Makan Bergizi Gratis turut mendorong lonjakan konsumsi pemerintah hingga 21,81 persen.