Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I-2026, yang menjadi level tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Capaian ini dipengaruhi oleh siklus musiman serta peningkatan belanja negara melalui program sosial pemerintah sebagaimana dilansir dari Money.
Analisis dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan bahwa angka pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kekuatan fundamental ekonomi nasional yang asli. Momentum Ramadan dan Idul Fitri menjadi salah satu motor penggerak utama pada periode tiga bulan pertama tahun ini.
"Memang faktor pertama tentu saja momentum Lebaran dan puasa. Itu pasti menaikkan konsumsi masyarakat," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF pada Kamis (7/5/2026).
Peningkatan konsumsi pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi variabel paling dominan dalam mendongkrak angka PDB. Pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp 30 triliun setiap bulan, sehingga total tambahan belanja negara mencapai kisaran Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun sepanjang kuartal pertama.
Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa dampak dari program MBG ini kemungkinan tidak akan bertahan secara permanen bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan. Ia memprediksi efek tersebut akan melandai pada kuartal pertama tahun berikutnya saat basis perhitungan tahunan sudah menyesuaikan dengan anggaran saat ini.
Selain faktor belanja pemerintah, terdapat pengaruh dari rendahnya angka pertumbuhan pada kuartal I-2025 yang hanya berada di level 4,9 persen. Kondisi base year yang rendah ini secara otomatis memberikan ruang bagi angka pertumbuhan tahun 2026 untuk terlihat lebih signifikan di atas kertas.
"Ada faktor base year karena pertumbuhan tahun lalu rendah. Selain itu, ada penambahan basis data untuk perhitungan terutama di sektor industri. Itu juga berpengaruh," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.
Terdapat catatan kritis mengenai anomali antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pada perdagangan Kamis (7/5/2026), rupiah berada di level Rp 17.333 per dollar AS setelah sebelumnya sempat tertekan mendekati angka Rp 17.400.
Kesenjangan ini mengindikasikan adanya keraguan dari investor asing terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan. Arus modal keluar terpantau masih cukup besar sejak bulan Maret 2026, saat kurs rupiah mulai meninggalkan kisaran Rp 16.800 per dollar AS.