Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Kuartal I 2026

Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, yang dipicu oleh akselerasi belanja negara dan momentum hari besar keagamaan. Capaian periode Januari-Maret 2026 ini menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir menurut data Badan Pusat Statistik.

Dilansir dari Money, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menyentuh angka Rp 6.187,2 triliun. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan laporan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (5/5/2026).

Angka pertumbuhan ini melampaui capaian kuartal IV 2025 yang berada di level 5,39 persen serta kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen. Secara rinci, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, investasi naik 5,96 persen, dan konsumsi pemerintah melonjak hingga 21,81 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai performa ini mencerminkan ekspansi ekonomi yang solid meskipun basis perbandingan tahun lalu relatif rendah. Josua memberikan pandangannya terkait dinamika angka tahunan dan kontraksi kuartalan dalam keterangannya pada Jumat (8/5/2026).

"Pertumbuhan tahunan membandingkan kuartal I 2026 dengan kuartal I 2025 yang basisnya relatif rendah, sehingga angka tahunannya terlihat kuat. Sedangkan kontraksi kuartalan membandingkan dengan kuartal IV 2025 yang biasanya memang tinggi karena belanja akhir tahun dan realisasi proyek," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Peningkatan aktivitas ekonomi ini didorong oleh percepatan belanja pemerintah untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Josua mengingatkan bahwa terdapat tekanan harga dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mulai membebani dunia usaha.

"Sinyal dari sektor manufaktur pada April juga menunjukkan pelemahan, dengan PMI manufaktur turun ke 49,1 dan tekanan biaya bahan baku naik ke level tertinggi dalam empat tahun akibat perang Timur Tengah," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Sektor konstruksi turut mendapatkan dampak positif dari pembangunan infrastruktur pendukung jaringan logistik desa. Walaupun investasi fisik meningkat, Josua menekankan pentingnya melihat kontribusi program pemerintah tersebut secara proporsional terhadap total investasi nasional.

"Program tersebut membutuhkan dapur, gudang, fasilitas distribusi, bangunan pendukung, peralatan, dan jaringan logistik," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Pada sisi ketenagakerjaan, data menunjukkan adanya perbaikan kuantitas dengan penurunan angka pengangguran menjadi 4,68 persen pada Februari 2026. Kendati demikian, kualitas pekerjaan masih menjadi catatan karena penurunan proporsi pekerja di sektor formal.

"Masalah tenaga kerja saat ini bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, stabil, dan memberi pendapatan layak," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Saat ini jumlah penduduk bekerja telah mencapai 147,67 juta orang, namun mayoritas tambahan lapangan kerja masih terserap di sektor informal. Pemerintah terus memantau dampak belanja modal terhadap struktur ekonomi secara menyeluruh.

Artikel terkait

Rekomendasi