Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I-2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I-2026

Ketahanan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 dinilai tetap terjaga dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meskipun demikian, terdapat sejumlah catatan mengenai kualitas pertumbuhan yang perlu diperkuat di masa mendatang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari Money, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menyentuh angka Rp 6.187,2 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp 3.447,7 triliun.

Sektor akomodasi serta makan dan minum memimpin pertumbuhan dari sisi produksi dengan kenaikan signifikan sebesar 13,14 persen. Posisi selanjutnya diikuti oleh jasa lainnya sebesar 9,91 persen, serta sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,04 persen.

Industri pengolahan, yang merupakan kontributor ekonomi terbesar, mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,04 persen. Namun, secara triwulanan (quarter-to-quarter), ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen yang menjadi sinyal perlunya peningkatan kualitas pertumbuhan.

Supply Chain Indonesia (SCI) menilai capaian ini mencerminkan daya tahan ekonomi nasional yang cukup kuat. Founder & CEO SCI, Setijadi, menyoroti pentingnya peran aktivitas logistik dalam menggerakkan roda ekonomi tanah air.

"Pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan aktivitas logistik menjadi salah satu penggerak penting ekonomi," kata Setijadi.

"Namun, peningkatan aktivitas tersebut harus diikuti efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda, dan digitalisasi rantai pasok," lanjutnya.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,52 persen. Sektor ini memberikan kontribusi dominan sebesar 54,36 persen terhadap total PDB nasional.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 5,96 persen. Sebaliknya, kinerja ekspor barang dan jasa hanya tumbuh tipis 0,90 persen, tertinggal jauh dari impor yang melonjak 7,18 persen.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih perlu diperkuat dari sisi produktivitas industri dan daya saing ekspor," ujar Setijadi.

Tantangan Ekspor dan Struktur Ekonomi

Struktur ekonomi nasional saat ini masih terpusat di Pulau Jawa dengan kontribusi 57,24 persen terhadap PDB. Di sisi lain, wilayah Bali–Nusa Tenggara dan Sulawesi menunjukkan performa impresif dengan pertumbuhan masing-masing 7,93 persen dan 6,95 persen.

Pada perdagangan internasional, nilai ekspor periode Januari–Maret 2026 mencapai 66,85 miliar dollar AS atau hanya tumbuh 0,34 persen. Khusus pada Maret 2026, ekspor bahkan mengalami penurunan 3,10 persen secara tahunan menjadi 22,53 miliar dollar AS.

Kondisi berbeda terlihat pada angka impor yang naik 10,05 persen menjadi 61,30 miliar dollar AS pada periode yang sama. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan terhadap bahan baku serta barang modal.

Meskipun neraca perdagangan masih surplus sebesar 5,55 miliar dollar AS, angka ini menyusut jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 10,91 miliar dollar AS. Setijadi menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap tren penurunan ekspor.

"Penurunan ekspor pada Maret perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi pelemahan berkepanjangan," ujarnya.

Industri pengolahan masih menopang ekspor nonmigas dengan pertumbuhan 3,96 persen. Namun, penurunan tajam terjadi di sektor pertanian sebesar 32,18 persen dan sektor pertambangan yang terkoreksi 11,17 persen.

Kenaikan impor barang modal dianggap sebagai indikasi ekspansi kapasitas produksi nasional. Meski begitu, pemerintah didorong untuk mengawal dampak tersebut agar benar-benar meningkatkan produktivitas dan ekspor bernilai tambah.

"Kenaikan impor bahan baku dan barang modal perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional, memperdalam rantai pasok domestik, serta mengurangi ketergantungan impor dalam jangka menengah," tegas Setijadi.

Artikel terkait

Rekomendasi