Aksi penarikan dana massal oleh investor global dari pasar negara berkembang memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,28 persen ke level 6.435,295 pada perdagangan Senin (18/5).
Berdasarkan laporan RTI Business pukul 10.33 WIB, penurunan indeks domestik tersebut diiringi dengan melemahnya 676 saham, sementara hanya 70 saham yang menguat dan 67 saham lainnya bergerak stagnan.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tekanan hebat di pasar saham domestik ini terjadi secara simultan di mayoritas kawasan negara berkembang.
"Ada juga potensi The Fed bakal kemungkinan tidak menurunkan suku bunga pada tahun ini atau malah ada kemungkinan naikin bunga karena data inflasi kemarin Amerika masih terus naik ke level 3,8% year-on-year," ujar Gunarto.
Menurut pemaparan Gunarto, ekspektasi bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat mendorong pemodal global mengalihkan dana mereka kembali ke aset berbasis dolar AS. Faktor lain yang ikut memicu hengkangnya modal asing adalah lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik global yang masih tinggi.
"Dan berikutnya juga ada kemungkinan dari sisi harga minyak terus melonjak karena tensi geopolitik masih tinggi. Itulah kenapa investor global banyak keluar dari emerging market," kata Gunarto.
Gunarto menambahkan bahwa penguatan mata uang dolar AS berimbas langsung pada depresiasi seluruh mata uang utama di Asia sepanjang pekan lalu, sehingga memicu aksi ambil untung di pasar saham.
"Mata uang utama Asia itu seluruhnya melemah terhadap dolar pada pekan lalu. Jadi wajar kalau terjadi profit taking di pasar saham terutama di emerging market seperti Indonesia," ujar Gunarto.
Kendati indeks sedang tertekan, Gunarto melihat komoditas kelapa sawit, batu bara, serta sektor energi baru terbarukan, minyak, dan gas yang masih berada di bawah nilai wajarnya tetap potensial bagi pemodal. Selain itu, sektor pangan domestik dinilai mampu bersikap defensif.
"Ya kita lihat ini sektor-sektornya, memang kalau kita lihat sektor kesehatan ternyata masih bisa bangkit ya," kata Gunarto.
"Lalu juga sektor energi baru terbarukan saya rasa juga menarik. Terus juga sektor yang terkait dengan energi minyak, gas, terus juga sektor yang memang masih under value ya. Ininya nilainya seperti komoditas kelapa sawit ataupun juga batu bara," ujar Gunarto.
Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai ketidakpastian akibat perang di Iran menjadi bayang-bayang utama bagi pergerakan pasar saat ini.
"Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz," ujar Nafan.
Nafan menyebutkan kekhawatiran pelaku pasar global semakin diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang siap mengerahkan kekuatan militer yang lebih besar.
"Apalagi ditambah ancaman Trump yang siap meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak sehingga hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh," kata Nafan.
Sentimen negatif lain yang menekan bursa domestik bersumber dari penyesuaian indeks MSCI Global Standard serta Small Cap Index yang mendepak beberapa saham Indonesia. Tekanan terhadap volatilitas pasar saham juga diperberat oleh posisi nilai tukar rupiah yang tertahan di level Rp17.597 per dolar AS.
"Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per USD tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks," kata Nafan.
Nafan mengingatkan para pemodal untuk memperketat manajemen risiko serta bertindak lebih selektif dalam menaruh modal di tengah fluktuasi pasar.
"Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi BI menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026. Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75% demi menjaga stabilitas Rupiah," ujar Nafan.