Volume ekspor China mengalami pertumbuhan sebesar 14,1 persen pada April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu di tengah guncangan ekonomi akibat perang Amerika Serikat dan Iran. Capaian ini dilaporkan oleh General Administration of Customs (GAC) saat industri manufaktur Beijing tetap stabil melalui strategi diversifikasi energi.
Peningkatan aktivitas perdagangan ini menunjukkan ketahanan sektor manufaktur China meskipun terjadi penutupan Selat Hormuz yang krusial bagi jalur energi global. Dilansir dari Money, keberhasilan tersebut didorong oleh langkah pemerintah China dalam mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber alternatif guna menjaga mesin industri tetap beroperasi.
"Ekspor dari negara manufaktur terkemuka ini meningkat 14,1 persen pada bulan April dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu," jelas The Daily Star pada Sabtu (9/5/2026).
Data tersebut menyoroti bagaimana Beijing tetap mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan secara tahunan meskipun stabilitas geopolitik dunia sedang terganggu. Pengalihan pasokan energi yang dilakukan China membuat negara tersebut tidak terlalu terdampak oleh blokade di wilayah Teluk.
Sementara itu, ketidakseimbangan neraca perdagangan kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah Amerika Serikat (AS). Isu ketimpangan ekspor antara kedua negara dijadwalkan menjadi poin pembahasan utama dalam pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump pada pekan mendatang.
"Perdagangan diperkirakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan mendatang antara Xi dan Trump, dengan kedua pemimpin tersebut mengincar konsesi penting untuk perekonomian mereka yang besar," lapor The Daily Star.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mencatatkan lonjakan ekspor yang signifikan pada sektor komoditas energi. Pengiriman minyak mentah dari AS ke pasar internasional, khususnya Asia, mengalami kenaikan drastis mencapai 5,2 juta barel per hari pada April 2026.
"Ekspor minyak AS melonjak menjadi 5,2 juta barrel per hari pada bulan April, meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan dengan 3,9 juta barrel yang diekspor pada bulan Februari sebelum perang," jelas CNBC pada Minggu (3/5/2026).
Pusat kegiatan ekspor minyak ini terkonsentrasi di Pelabuhan Corpus Christi, Texas Selatan, yang menjadi gerbang utama bagi kapal-kapal tanker menuju pasar global. Intensitas pengiriman di pelabuhan tersebut meningkat tajam sejak pecahnya konflik yang mengganggu pasokan dari Timur Tengah.
"Ini seperti iring-iringan truk tangki yang terus-menerus datang dan pergi," jelas kepala pelabuhan Corpus Christi, Kent Britton.
Lonjakan ekspor minyak mentah AS ini terjadi seiring dengan ketergantungan pasar Asia terhadap pasokan energi yang aman dari gangguan konflik bersenjata. Fokus perdagangan AS saat ini beralih ke pengisian kekosongan pasokan global akibat penutupan jalur maritim di wilayah konflik.