KKP Dorong Ikan Nila Jadi Komoditas Unggulan Ekspor ke Amerika-Eropa

KKP Dorong Ikan Nila Jadi Komoditas Unggulan Ekspor ke Amerika-Eropa

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) menetapkan ikan nila atau tilapia sebagai komoditas andalan baru ekspor Indonesia. Strategi ini menyasar pasar Amerika Serikat dan Eropa setelah mencatatkan tren positif dalam pemenuhan standar global.

Dilansir dari Detik Finance, ikan tilapia kini diminati konsumen global karena kandungan protein tinggi berkisar 20 hingga 29 gram per sajian serta rasa yang ringan. Keunggulan nutrisi ini membuat komoditas tersebut dijuluki sebagai ikan dengan karakteristik menyerupai daging ayam di sektor kelautan.

Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP, Erwin Dwiyana, memberikan penjelasan mengenai keberhasilan produk ini menembus pasar internasional tanpa hambatan teknis pada Kamis (14/5/2026). Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap berbagai sertifikasi wajib dan sukarela yang diminta oleh pembeli mancanegara.

"Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang zero penolakan. Kami melihat standar global sangat penting diperhatikan. Mulai dari persyaratan wajib seperti GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate, dan Nomor Registrasi, dan diperkuat sertifikasi buyer-driven seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC, semuanya dilengkapi oleh seluruh eksportir kita sehingga pasar percaya dengan produk kita," ucap Erwin.

Penerapan standar ketat ini berdampak pada keberhasilan produsen lokal, salah satunya Regal Springs Indonesia yang berhasil menyuplai jaringan pub Greene King di Inggris. Produk tilapia asal Indonesia diolah menjadi menu kelas atas dengan tingkat keluhan konsumen yang minim di wilayah tersebut.

Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra, menyatakan bahwa pencapaian di pasar Eropa didukung oleh kepemilikan 37 sertifikasi internasional. Salah satu standar krusial yang dipenuhi adalah Aquaculture Stewardship Council (ASC) yang menjamin proses budidaya berkelanjutan.

"Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan. Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan," terang Tri Dharma Saputra.

Selain kualitas, harga ikan nila Indonesia dinilai sangat kompetitif jika dibandingkan dengan jenis ikan putih lainnya seperti kod dan trout. Hal ini mempermudah perluasan pangsa pasar di negara-negara maju yang sebelumnya didominasi oleh spesies whitefish mapan lainnya.

Guna menjaga konsistensi pasokan, KKP terus memacu produktivitas nasional melalui program Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) di Karawang dan revitalisasi tambak di wilayah Pantura. Upaya ini bertujuan agar kapasitas produksi tetap memenuhi kriteria ekspor yang telah ditetapkan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, sebelumnya juga telah memberikan penegasan terkait visi jangka panjang kedaulatan pangan melalui sistem budidaya yang modern. Ia menekankan pentingnya kemandirian dalam pengelolaan sumber daya laut nasional.

"Sistem budidaya yang terukur, berkelanjutan, dan mampu dikelola sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim atau eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan mampu menawarkan solusi konkret untuk mencapai ketahanan pangan nasional secara mandiri dan berdaulat," tegas Sakti Wahyu Trenggono.

Artikel terkait

Rekomendasi