Nilai ekspor Indonesia membukukan performa positif sepanjang caturwulan pertama tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total pengiriman barang ke luar negeri pada periode Januari hingga April 2026 menembus angka 92,15 miliar Dolar AS.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,48 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan menjadi motor penggerak utama dalam lonjakan performa perdagangan internasional ini.
Seperti dilansir dari Suara, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini menguraikan bahwa hasil ekspor minyak dan gas bumi berada di angka 4,41 milar Dolar AS. Nilai kelompok migas tersebut mengalami penurunan 8,30 persen secara tahunan.
Sebaliknya, pengapalan komoditas nonmigas justru memperlihatkan gairah tinggi dengan mengantongi 87,4 miliar Dolar AS. Angka nonmigas ini melesat hingga 6,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Sektor industri pengolahan ini menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non-migas sepanjang Januari hingga April 2026 dengan andil sebesar 7,71 persen terhadap kenaikan total ekspor," kata Pudji Ismartini dalam konferensi pers virtual pada Selasa (2/6/2026).
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang terbesar dari industri pengolahan meliputi produk turunan nikel, minyak kelapa sawit, serta produk kimia dasar organik hasil pertanian. Selain itu, kimia dasar anorganik, semikonduktor, dan komponen elektronik turut andil dalam kenaikan tersebut.
Apabila melihat data khusus pada bulan April 2026, nilai perdagangan ke luar negeri menyentuh 25,30 miliar Dolar AS. Jumlah ini melonjak signifikan sebesar 21,98 persen secara tahunan dibanding April 2025.
"Nilai ekspor migas tercatat senilai 1,15 miliar Dolar AS atau turun 1,20 persen, sementara nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 23,36 persen dengan nilai 24,15 miliar Dolar AS," papar Pudji Ismartini.
Akselerasi pengiriman barang pada April 2026 bersumber dari kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang meroket 66,59 persen. Sektor ini menyumbang andil sebesar 5,91 persen pada total kenaikan ekspor.
Komoditas nikel beserta produk turunannya mengekor di posisi kedua dengan pertumbuhan 75,52 persen dan andil 2,17 persen. Mesin serta peralatan mekanis juga mencatatkan penguatan sebesar 57,90 persen dengan kontribusi 1,47 persen.
Performa Komoditas Unggulan RI
Pudji Ismartini juga memaparkan pergerakan tiga komoditas andalan nasional yang meliputi besi baja, batu bara, serta Crude Palm Oil berserta produk turunannya.
"Total ketiganya ini memberikan share sekitar 28,30 persen dari total ekspor non-migas Indonesia pada Januari hingga April 2026," lanjut Pudji Ismartini.
Secara kumulatif, nilai pengiriman besi dan baja merangkak naik sebesar 2,54 persen. Kelompok CPO dan produk olahannya melaju pesat hingga 16,59 persen, sedangkan batu bara justru menyusut 7,27 persen.
Tiga Negara Mitra Dagang Utama
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih mengukuhkan posisi mereka sebagai pasar terbesar bagi produk-produk Indonesia. Akumulasi perdagangan ke tiga negara ini menguasai porsi 44,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Pasar Tiongkok menyerap komoditas nonmigas senilai 22,76 miliar Dolar AS yang didominasi oleh produk besi dan baja sebesar 25,94 persen atau tumbuh 0,7 persen. Hubungan dagang dengan Amerika Serikat membukukan nilai 10,17 miliar Dolar AS melalui pasokan mesin dan alat listrik yang naik 3,28 persen.
Sementara itu, India mencatatkan nilai transaksi sebesar 6,14 miliar Dolar AS. Sektor pengiriman ke India dipimpin oleh bahan bakar mineral dengan porsi 32,78 persen, walaupun mengalami penurunan sebesar 1,37 persen.