Kinerja ekspor komoditas perkebunan Indonesia, khususnya kopi dan kakao, mengalami tekanan berat akibat penurunan permintaan dari pasar global pada Maret 2026. Pelemahan ini terlihat signifikan pada pengiriman ke sejumlah negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, serta kawasan Eropa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir dari Ekonomi, kelompok komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah mencatatkan penurunan ekspor sebesar 54,69 persen secara tahunan. Sektor kakao dan produk turunannya juga mengalami kemerosotan sebesar 50,89 persen, yang memberikan andil negatif terhadap total ekspor nasional.
Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdoellah menjelaskan bahwa penurunan pada sektor kopi mencakup volume maupun nilai. Hal ini terjadi terutama pada jenis biji kopi robusta dan arabika green bean nonroasted yang dipengaruhi oleh kenaikan konsumsi di dalam negeri.
"Memang terjadi penurunan volume maupun nilai ekspor biji kopi arabika maupun robusta green bean not roasted," ujar Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) pada Kamis (7/5/2026).
Meskipun kategori biji mentah menurun, produk kopi olahan jenis roasted coffee justru masih mencatatkan pertumbuhan pada awal tahun ini. Sebaliknya, industri kakao menghadapi situasi yang lebih sulit karena volume ekspor pasta, lemak kakao, dan cokelat kompak melemah akibat kondisi pasar di Eropa dan Amerika Serikat.
"Lebih banyak dipengaruhi permintaan global yang melemah," kata Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo).
Penurunan harga komoditas di pasar global turut memperburuk keadaan, di mana harga cocoa butter terkoreksi menjadi US$7,74 per kilogram dan biji kakao ke level US$5,66 per kilogram. BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan secara keseluruhan menjadi bidang dengan penurunan ekspor terdalam mencapai 44,14 persen secara tahunan.