Nilai ekspor minyak kelapa sawit (CPO) beserta turunannya mengalami penurunan tajam sebesar 35,08 persen secara tahunan pada Maret 2026 akibat tekanan harga global. Data Badan Pusat Statistik yang dilansir dari Ekonomi pada Senin (4/5/2026) menunjukkan komoditas ini tetap menjadi tulang punggung ekspor nasional sepanjang kuartal pertama.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pengiriman CPO dan produk turunannya dengan kode HS 1511 tercatat senilai US$1,42 miliar. Secara volume, perdagangan komoditas ini mencapai 1,31 juta ton pada periode yang sama.
"Nilai ekspor CPO tersebut dan turunannya turun sebesar 35,08% secara year on year," kata Ateng dalam rilis data BPS Mei, Senin (4/5/2026).
Pelemahan pada bulan Maret ini disebabkan oleh normalisasi permintaan pasar internasional setelah mencapai basis tinggi pada tahun sebelumnya. Kendati demikian, akumulasi ekspor CPO periode Januari hingga Maret 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Total nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan pada kuartal I/2026 menyentuh angka US$66,85 miliar, atau tumbuh tipis 0,34 persen secara tahunan. Sektor nonmigas menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 0,98 persen menjadi US$63,60 miliar, kontras dengan sektor migas yang merosot 10,58 persen.
Ateng memaparkan bahwa sektor industri pengolahan memberikan andil terbesar terhadap kenaikan ekspor nonmigas, yakni sebesar 3,15 persen. Selain produk sawit, komoditas nikel, kimia dasar organik, serta komponen elektronik menjadi pendorong utama sektor manufaktur tersebut.
"Nilai ekspor CPO tersebut dan turunannya turun sebesar 35,08% secara year on year," kata Ateng dalam rilis data BPS Mei, Senin (4/5/2026).
Negara tujuan ekspor utama masih didominasi oleh China dengan nilai US$16,50 miliar, melonjak 17,49 persen dibandingkan kuartal I/2025. Peningkatan pengiriman barang juga terjadi ke pasar India dan kawasan Asean, sementara permintaan dari Amerika Serikat serta Uni Eropa justru melandai.
Secara bulanan, total ekspor Maret 2026 berada pada angka US$25,53 miliar, turun 3,10 persen secara tahunan. Penurunan ini tidak hanya dipicu oleh sektor lemak dan minyak nabati, tetapi juga disebabkan anjloknya ekspor kakao sebesar 50,89 persen serta kopi dan rempah-rempah sebesar 54,69 persen.