Emiten Prajogo Pangestu BRPT dan PTRO Penuhi Aturan Free Float BEI

Emiten Prajogo Pangestu BRPT dan PTRO Penuhi Aturan Free Float BEI

Dua perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrosea Tbk (PTRO), resmi memenuhi ketentuan minimal saham publik atau free float sebesar 15 persen pada Jumat, 8 Mei 2026. Langkah ini sejalan dengan regulasi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperkuat likuiditas pasar modal.

Data kepemilikan menunjukkan BRPT mencatatkan porsi saham publik sebesar 26,7 persen, sementara PTRO berada di angka 27,7 persen. Capaian ini menempatkan kedua emiten tersebut di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00045/BEI/03-2026.

Berbeda dengan BRPT dan PTRO, empat emiten lain di bawah grup yang sama masih memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian porsi kepemilikan. Emiten tersebut meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Chandra Daya Investasi (CDIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Daftar Kepatuhan Free Float Emiten Prajogo Pangestu
EmitenFree FloatStatus
BRPT26,7%Penuhi
PTRO27,7%Penuhi
TPIA10,5%Belum Penuhi
CDIA10,0%Belum Penuhi
BREN12,3%Belum Penuhi
CUAN14,9%Belum Penuhi

Otoritas bursa memberikan kelonggaran berupa masa transisi bagi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. Target penyesuaian ditetapkan secara bertahap, yakni 12,5 persen pada 31 Maret 2027 dan wajib mencapai 15 persen pada 31 Maret 2028.

Khusus untuk CUAN, porsi saham publik saat ini telah menyentuh angka 14,9 persen atau hanya kurang 0,1 persen dari ketentuan. Melansir data operasional, Prajogo Pangestu terpantau telah melepas sekitar 3 miliar lembar saham CUAN secara bertahap sejak akhir Maret hingga 4 Mei 2026 guna menambah volume saham beredar di masyarakat.

Kepatuhan terhadap aturan free float ini diproyeksikan dapat meningkatkan daya tawar pemegang saham minoritas dan memperkecil risiko konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi. Berdasarkan analisis Cetro Trading Insight, keterbukaan informasi ini menjadi komponen kunci bagi investor dalam menilai kesehatan arus perdagangan sebuah emiten.

Secara fundamental, perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi cenderung lebih mudah mendapatkan akses modal di pasar reguler. Saat ini investor disarankan untuk terus memantau jadwal transisi emiten yang belum patuh guna menyesuaikan strategi investasi jangka panjang di pasar modal Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi