Erupsi Gunung Dukono Halmahera Utara Lukai Lima Pendaki

Erupsi Gunung Dukono Halmahera Utara Lukai Lima Pendaki

Letusan dahsyat Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (8/5/2026) pagi menyebabkan lima orang pendaki mengalami luka-luka. Peristiwa ini terjadi di tengah status larangan pendakian yang telah diberlakukan otoritas setempat sejak April lalu.

Data mengenai adanya korban luka tersebut dikonfirmasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Utara, dilansir dari Detik Travel. Pihak berwenang masih melakukan pendataan karena para pendaki tersebut naik ke puncak tanpa koordinasi resmi.

Kepala Bidang II Kedaruratan dan Logistik BPBD Halmahera Utara, Henny Tonga, menyatakan bahwa tim gabungan saat ini tengah menelusuri jumlah pasti warga yang berada di area kawah saat erupsi berlangsung.

"Informasi yang kami terima pendaki alami luka-luka sebanyak lima orang," ujar Henny Tonga, Kepala Bidang II Kedaruratan dan Logistik BPBD Halmahera Utara.

Laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api di Desa Mamuya mencatat erupsi terjadi pukul 07.41 WIT dengan tinggi kolom abu mencapai 10.000 meter di atas puncak. Amplitudo maksimum tercatat sebesar 34 mm dengan durasi getaran hampir 1.000 detik.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dukono, Bambang Sugiono, mengungkapkan bahwa aktivitas pendakian ke gunung tersebut sebenarnya merupakan tindakan ilegal menurut aturan yang berlaku.

"Surat pelarangan untuk tidak mendaki ke Gunung Dukono terbit sejak 17 April 2026 dan sampai saat ini belum dicabut," tegas Bambang Sugiono, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dukono.

Saat ini Gunung Dukono berada pada status Level II (Waspada) yang melarang adanya aktivitas manusia dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang. Langkah ini diambil karena karakteristik letusan gunung yang sulit diprediksi.

Bambang menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar area terdampak wajib menggunakan alat pelindung diri untuk meminimalisir dampak kesehatan akibat paparan material vulkanik.

"Ini untuk menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan," jelas Bambang Sugiono.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, dan Polri terus melakukan penyisiran di lereng gunung untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal. Kondisi para korban luka saat ini masih menunggu laporan medis lengkap dari tim lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi