Tiga pendaki meninggal dunia dan lima lainnya terluka akibat letusan besar Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada 8 Mei 2026. Erupsi yang memuntahkan kolom abu setinggi 10 kilometer tersebut memicu operasi tanggap darurat oleh tim SAR gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Aktivitas vulkanik hebat ini terjadi saat sejumlah rombongan pendaki masih berada di kawasan kawah gunung api aktif tersebut. Dilansir dari Suara, laporan kepolisian dan tim penyelamat mengonfirmasi bahwa korban jiwa terdiri dari satu warga negara Indonesia dan dua wisatawan asal Singapura.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya lima orang pendaki sedang dalam penanganan medis akibat luka-luka yang diderita selama kejadian. Selain jatuhnya korban, sebaran abu vulkanik kini mulai menurunkan kualitas udara dan mengancam keselamatan penerbangan di wilayah Maluku Utara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa Gunung Dukono memiliki tipe erupsi persisten yang terjadi hampir setiap hari sejak 1933. Letusan kali ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan pantauan frekuensi dan ketinggian kolom abu.
Letak geografis di kawasan Cincin Api Pasifik membuat suplai magma ke gunung ini terus terbentuk secara berkelanjutan. Kondisi tersebut menyebabkan Halmahera Utara menjadi daerah pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif yang memicu aktivitas vulkanik tanpa henti.
| Tahun | Deskripsi Aktivitas |
|---|---|
| Abad ke-16 | Catatan awal erupsi besar dengan dokumentasi terbatas. |
| 1719, 1868, 1901 | Terjadi rentetan letusan dan hujan abu di Halmahera. |
| 1933 | Awal fase erupsi modern yang berkelanjutan hingga kini. |
| 1933 - 2026 | Aktivitas harian dengan letusan kecil hingga sedang. |
| Mei 2026 | Erupsi besar dengan kolom abu 10 km dan korban jiwa. |
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Dukono masih bertahan pada Level II atau Waspada. Masyarakat dilarang keras mendekati kawah aktif dan diwajibkan menggunakan masker guna menghindari dampak buruk paparan abu vulkanik terhadap kesehatan pernapasan.