ESDM Pastikan Stok Minyak Rusia Aman Meski Kilang Diserang Ukraina

ESDM Pastikan Stok Minyak Rusia Aman Meski Kilang Diserang Ukraina

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kesepakatan pengadaan 150 juta barel minyak mentah dari Rusia tetap berjalan dan tidak terpengaruh oleh serangan Ukraina terhadap sejumlah fasilitas energi Rusia pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) ESDM Laode Sulaeman menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika antara Rusia dan Ukraina secara intensif. Pemantauan ini dilakukan untuk melihat apakah ada perubahan pada komitmen volume yang telah disepakati sebelumnya oleh kedua negara.

"Kalau saat ini sih kita belum melihat itu (dampak serangan) ya. Komitmen kita masih sama dengan ini (Rusia), ngomong-ngomong Pak Menteri kemarin," kata Laode Sulaeman, Dirjen Migas ESDM.

Pemerintah saat ini sedang mematangkan teknis pengiriman minyak tersebut untuk memenuhi kebutuhan berbagai kilang di dalam negeri. Meskipun muncul kekhawatiran terkait potensi penurunan produksi dan ekspor dari Rusia, ESDM menilai belum ada dampak langsung terhadap rencana kerja sama energi dengan Indonesia.

"Kalau kita kan melihat semuanya, bukan hanya dari Rusia, tapi day-to-day kita dari mana itu yang harus kita jaga. Jadi seperti itu," lanjut Laode Sulaeman.

Sebagai bentuk mitigasi risiko terhadap potensi gangguan distribusi global, pemerintah tetap melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dari negara-negara lain. Fokus utama saat ini adalah menjamin level stok bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik tetap berada pada posisi aman bagi masyarakat.

"Yang paling penting buat kita itu saat ini menjaga stok aja aman. Udah itu aja dulu, kita nggak usah pikirin dulu. Ini tapi stok aman aja udah, itu yang paling penting," tandas Laode Sulaeman.

Ketegangan meningkat setelah Ukraina menyerang terminal ekspor minyak utama Rusia di Primorsk pada Minggu (3/5/2026), yang memiliki kapasitas distribusi satu juta barel per hari. Ancaman kenaikan harga energi global menjadi sorotan utama menyusul kerusakan infrastruktur tersebut.

Dilansir dari Aljazeera, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan bahwa harga minyak dunia yang sudah menembus angka $120 per barel dapat melonjak lebih tinggi jika gangguan infrastruktur terus berlanjut.

"Jika volume tambahan minyak kami diturunkan dari pasar, harga akan naik lebih jauh dari level saat ini, yang sudah di atas $120 per barel. Itu akan berarti bahwa bahkan dengan volume ekspor yang lebih rendah, perusahaan kami akan menghasilkan lebih banyak uang dan negara akan menerima lebih banyak pendapatan," kata Dmitry Peskov, Juru bicara Kremlin.

Artikel terkait

Rekomendasi