Federal Reserve Board menunjuk Jerome Powell sebagai ketua sementara bank sentral Amerika Serikat untuk mengisi kekosongan kepemimpinan menjelang pelantikan Kevin Warsh. Keputusan krusial ini diumumkan pada Jumat (15/5/2026) di Washington, D.C., bersamaan dengan selesainya masa jabatan delapan tahun Powell, seperti dilansir dari Internasional.
Langkah penunjukan tersebut diambil karena Presiden AS Donald Trump belum menentukan tanggal resmi pengucapan sumpah jabatan bagi Warsh. Kendati demikian, penunjukan sementara ini menuai penolakan dari dua anggota dewan The Fed, Stephen Miran dan Michelle Bowman, akibat ketiadaan batas waktu status interim yang jelas.
Powell sendiri dilaporkan bakal tetap menduduki kursi dewan gubernur hingga investigasi hukum pemerintah terhadap dirinya dihentikan. Di sisi lain, transisi kepemimpinan ini berlangsung saat pasar keuangan AS menghadapi lonjakan imbal hasil obligasi tenor 2 tahun sebesar 0,5% poin dan yield tenor 30 tahun yang menembus 5,1%.
Situasi pasar yang bergejolak melahirkan ekspektasi bahwa The Fed di bawah kepemimpinan Warsh akan menaikkan suku bunga pada Januari 2026. Warsh dikenal memiliki pandangan tradisional yang berfokus pada pengendalian inflasi dan bersikap kritis terhadap kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE) masa lalu.
Profesor keuangan Hanno Lustig dari Stanford University memberikan analisis mendalam mengenai pengetatan moneter dan dampaknya bagi pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat.
"Kondisi pasar saat ini bisa membuat yield obligasi jangka panjang terus naik, yang pada akhirnya menekan dunia usaha, rumah tangga, hingga pemerintah AS sendiri." kata Hanno Lustig, Profesor Keuangan Stanford University.
Lustig menilai pasar global kemungkinan besar mulai mengurangi keistimewaan biaya pinjaman murah yang selama ini dinikmati oleh pemerintah Amerika Serikat.
"Dalam situasi seperti itu, menurutnya, The Fed akan berada di posisi sulit: antara membiarkan pasar menentukan harga secara penuh atau kembali masuk membeli obligasi untuk menjaga stabilitas." kata Hanno Lustig, Profesor Keuangan Stanford University.
Saat ini total aset yang dimiliki Federal Reserve berada pada angka 6,7 triliun dolar AS setelah sempat menyentuh puncaknya sebesar 9 triliun dolar AS pada tahun 2022. Posisi kepemimpinan baru yang akan dipegang oleh Warsh diproyeksikan menghadapi tantangan berat akibat tingginya utang negara dan dinamika pasar obligasi.