Nilai tukar yen Jepang masih menunjukkan tren melemah secara tahunan akibat kebijakan suku bunga domestik yang rendah di tengah ketidakpastian pasar global pada Senin (25/5/2026).
Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih memilih franc Swiss sebagai instrumen lindung nilai utama, seperti dilansir dari Investasi. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan yen sejauh ini belum solid karena pergerakannya masih tertahan oleh intervensi otoritas Jepang di tengah pelemahan tahunan yang mencapai 11,26 persen.
"JPY tidak menguat dan cenderung masih terus tertekan, hanya dapat bertahan oleh intervensi. CHF masih tetap menjadi safe haven favorit investor," ujar Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Faktor penentu prospek mata uang aman sepanjang tahun ini meliputi arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, situasi ekonomi global, hingga fluktuasi harga minyak mentah dunia. Dolar AS berpotensi menguat jika suku bunganya tetap tinggi, sedangkan yen menghadapi tantangan dari selisih suku bunga yang besar.
"JPY masih tertekan kebijakan suku bunga Jepang yang jauh lebih rendah dibanding AS. Namun yen tetap berpotensi menguat saat terjadi kondisi risk-off atau krisis pasar global," jelas Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Kondisi ekonomi Swiss yang kokoh menjadikan franc Swiss lebih stabil dan defensif di tengah volatilitas pasar. Hingga semester I 2026, indeks dolar AS (DXY) diproyeksikan bergerak pada kisaran 98–100 jika ketegangan geopolitik berlanjut, dengan target USD/JPY di rentang 155–160 dan USD/CHF di level 0,7800–0,7900.