Indeks saham FTSE 100 di Bursa London ditutup menguat 60 poin ke level 10.325 pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, di tengah gejolak politik Inggris. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga tembaga ke rekor tertinggi baru yang mengangkat performa emiten pertambangan serta pelemahan nilai tukar poundsterling terhadap dolar AS.
Sektor pertambangan mendominasi daftar peraih keuntungan dengan Antofagasta memimpin melalui kenaikan 7,5 persen, sementara Intertek melonjak 6,5 persen setelah dewan direksi menyatakan kesediaan menerima tawaran akuisisi. Namun, penguatan indeks dibatasi oleh kekhawatiran pasar terkait ketidakpastian politik di pemerintahan Inggris.
"The morning’s relief rally in UK assets has been tempered by Wes Streeting’s move against Keir Starmer, barely 24 hours after the leadership challenge appeared to have fizzled out," kata Chris Beauchamp, Kepala Analis Pasar IG.
Beauchamp menambahkan bahwa investor kini menghadapi prospek ketidakpastian politik yang memperkeruh pandangan pasar, meski pelemahan poundsterling membantu mencegah pembalikan keuntungan di bursa saham.
"UK investors now face the prospect of more political uncertainty that adds to the already clouded outlook. However we haven’t seen a full reversal of the gains in the FTSE 100, helped by weakness in the pound which has continued to lose ground against the dollar," kata Chris Beauchamp.
Dari sisi kebijakan, pidato Raja (King's Speech) mengonfirmasi langkah-langkah reformasi regulasi untuk mendukung inovasi dan daya saing di sektor keuangan. Direktur Investment Association, Karen Northey, memberikan tanggapan positif terhadap rencana modernisasi Ombudsman Keuangan dan rezim manajer senior.
"With £3 trillion managed by our industry on behalf of European clients, a closer partnership with the EU on financial services, in addition to those industries referenced in the King’s Speech, can also help unlock investment opportunities," kata Karen Northey.
Pemerintah juga mengumumkan undang-undang untuk melarang semua lisensi eksplorasi minyak dan gas baru di Laut Utara. Kebijakan ini disambut oleh organisasi lingkungan sebagai langkah menuju kemandirian energi terbarukan.
"By calling time on North Sea oil and gas, the government is opening a bright future for cheap and homegrown sources of renewable energy. If the recent turmoil has taught us anything it's that relying on fossil fuels - whether from the North Sea or Gulf states - will only leave us at the mercy of foreign wars and dictators," kata Areeba Hamid, Co-Executive Director Greenpeace UK.
Di pasar sekunder, indeks FTSE 250 mencatat penurunan pada saham Vistry sebesar 12,3 persen menyusul peringatan laba, sementara Airtel Africa merosot 12,4 persen setelah adanya rencana pembelian saham dengan harga diskon oleh pemegang saham mayoritas.