Lembaga pemeringkat indeks global, FTSE Russell, resmi mengeluarkan empat saham emiten asal Indonesia dari daftar indeks mereka. Dilansir dari Finansial, penyesuaian ini berdampak pada perubahan bobot investasi negara berkembang.
FTSE Russell dalam keterangannya menyebut PT Dian Swastatama ifi Tbk (DSSA) masuk dalam kategori "Failed High Shareholding Concentration". Status ini berarti mayoritas saham perusahaan dikuasai oleh segelintir pemegang saham, sehingga tidak memenuhi syarat penyebaran kepemilikan publik.
Selain DSSA, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) juga dicoret dari kategori small cap. Perusahaan perdagangan nikel dan batu bara itu dinilai gagal memenuhi ketentuan minimum free float atau jumlah saham publik yang dapat diperdagangkan di pasar.
"Failed Minimum Free Float Requirement," tulis FTSE Russell dalam pengumumannya.
Dua emiten lain yang turut dikeluarkan dari indeks adalah PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). HILL bergerak di sektor kontraktor dan pertambangan nikel serta batu bara, sementara MLIA merupakan produsen dan distributor produk kaca industri.
Kedua saham tersebut dicoret karena masuk dalam daftar pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat indikasi aktivitas perdagangan yang tidak wajar. FTSE Russell menyebut keduanya "Failed Surveillance stocks screen".
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menjelaskan sebelum penyesuaian ini berlaku, kapitalisasi pasar bersih (net market capitalization free-float) dari 39 saham Indonesia di kategori large cap dan mid cap mencapai US$ 91,01 miIiar. Angka itu merepresentasikan bobot 0,88% dari total kapitalisasi saham large dan mid cap negara berkembang dalam indeks FTSE.
Namun setelah keluarnya DSSA, bobot Indonesia turun menjadi 0,86%.
"Penurunan bobot tersebut berpotensi memicu outflow terutama bagi passive fund hingga tanggal efektif rebalancing 22 Juni 2026," ujar Ratih kepada Kontan, Sabtu (23/5/2026).
Ratih memperkirakan potensi arus keluar dana asing dari produk pasif dapat mencapai US$ 297 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 487,8 miliar diperkirakan berasal dari produk Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) yang memiliki dana kelolaan US$ 102,68 miliar per akhir April 2026.
Secara keseluruhan, potensi outflow dari passive fund negara berkembang diperkirakan mencapai Rp 5,2 triliun dengan asumsi total dana kelolaan mencapai US$ 1,1 triliun.
Menurut Ratih, tekanan jual asing juga sudah tercermin di pasar saham domestik. Sepanjang tahun berjalan hingga 23 Mei 2026, outflow di IHSG tercatat mencapai Rp 53 triliun.
Ia menyarankan investor menghindari saham yang masuk daftar pemantauan khusus BEI, termasuk saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi maupun free float yang belum memenuhi ketentuan meski masih berada dalam indeks global.
"Untuk saham yang keluar dari indeks FTSE sebaiknya juga dihindari sementara hingga tekanan outflow mereda setelah 22 Juni 2026," ujarnya.
Di tengah tekanan pasar ekuitas domestik, Ratih menyarankan investor memilih saham berfundamental kuat dan memiliki potensi pendapatan pasif dari dividen.
Salah satunya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang dinilai memiliki valuasi murah dengan price to book value (PBV) sekitar 0,88%, level terendah sejak 2008.
Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga dinilai menarik karena masih memiliki sentimen pembagian dividen. PTBA dijadwalkan menggelar RUPST pada 11 Juni 2026 dengan potensi dividend yield sekitar 6,8%.
Mengutip Kompas.com, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan tekanan jual asing setelah pengumuman FTSE Russell berpotensi merembet ke sejumlah saham unggulan yang selama ini menjadi portofolio utama dana asing berbasis FTSE.
Menurutnya, jika melihat komposisi beberapa fund fact sheet manajer investasi yang menggunakan FTSE sebagai acuan atau benchmark, portofolionya cenderung didominasi saham sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Lalu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
"Jika kita lihat beberapa fund fact sheet MI (manager investasi) dengan benchmark FTSE sahamnya cenderung dominan di sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, BBCA serta TLKM, maka jika ada pengurangan bobot saham tersebut berpotensi mengalami outflow," ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).
Meski demikian, ia memandang tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terbatas di area 5.800, sehingga kondisi pelemahan pasar saat ini dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap.
"Dengan downside IHSG yang mulai terbatas di level 5800, maka ini menjadi kesempatan akumulasi bertahap bagi investor. Betul, dengan memastikan saham tersebut memiliki proyeksi kinerja yang baik kedepannya," paparnya.