FTSE Russell Bakal Depak Saham DSSA Akibat Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

FTSE Russell Bakal Depak Saham DSSA Akibat Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) diprediksi akan dikeluarkan dari indeks global FTSE Russell. Emiten energi dan infrastruktur Grup Sinar Mas yang dikendalikan melalui PT Sinar Mas Tunggal ini masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Potensi keluarnya emiten ini diperkirakan menambah tekanan jual asing di pasar saham domestik, seperti dilansir dari Money. Sebelumnya, pasar modal Indonesia diguncang rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang juga mengeluarkan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Lembaga indeks global FTSE Russell diketahui bakal mendepak saham asal Indonesia yang masuk daftar HSC dalam tinjauan indeks Juni 2026. Langkah tersebut diambil setelah FTSE Russell melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan pasar modal Indonesia sejak Februari 2026.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan bila dilihat dari tambahan kriteria terkait high shareholding concentration, saham DSSA berpotensi terdepak dari indeks karena dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi.

Dalam konteks ini, FTSE Russell maupun MSCI cenderung menghindari saham dengan free float rendah atau saham yang sebagian besar kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal itu karena dianggap kurang merepresentasikan likuiditas pasar yang sehat.

“Jika dilihat dari tambahan kriteria terkait HSC list, DSSA dengan bobot minum 4 persen menjadi konstituen yang terdepak,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC per 31 Maret 2026. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan transparansi pasar sekaligus memberikan informasi tambahan bagi investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi.

Faris memastikan bila FTSE Russell mencoret DSSA dan saham lainnya dari indeks, maka kondisi ini dapat memicu tambahan force selling. Investor institusi yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan harus menyesuaikan portofolionya dengan menjual saham yang dikeluarkan dari indeks.

Namun dampaknya diperkirakan tidak sebesar MSCI karena dana kelolaan yang mengikuti FTSE umumnya lebih kecil.

“Hal ini memicu force selling tambahan meskipun tidak sebesar MSCI, namun kami belum bisa memberikan estimasi angka persis karena FTSE tidak memberi data spesifik berapa AUM yang menggunakan indeksnya sebagai benchmarking,” paparnya.

FTSE Russell merupakan penyedia indeks saham global terkemuka yang menyusun daftar saham pilihan dari seluruh dunia, berfungsi sebagai acuan (benchmark) utama bagi investor institusional global. Meski mengapresiasi agenda reformasi dari otoritas bursa Indonesia, FTSE Russell memastikan tetap bersikap konservatif dalam menentukan komposisi indeks.

“FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak (HSC) dengan harga nol pada tinjauan Juni 2026, yang akan efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026,” tulis FTSE dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Keputusan penghapusan saham dengan harga nol tersebut diambil untuk menjaga integritas indeks. FTSE menerima masukan bahwa likuiditas saham-saham yang terkena peringatan HSC diperkirakan bakal merosot tajam, sehingga menyulitkan investor pasif untuk melakukan exit secara wajar.

Selain menghapus saham bermasalah, FTSE Russell juga memutuskan tetap menangguhkan penambahan anggota baru dan peningkatan bobot free float bagi emiten Indonesia. Kebijakan itu akan berlaku setidaknya hingga tinjauan indeks September 2026 mendatang.

Penangguhan tersebut mencakup penundaan masuknya emiten hasil penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), maupun emiten yang seharusnya mengalami kenaikan peringkat atau re-ranking berdasarkan kapitalisasi pasar.

“FTSE Russell akan terus menunda re-ranking indeks secara penuh, kenaikan free float, dan penambahan emiten baru hingga setidaknya tinjauan indeks September 2026, guna memberikan periode pemantauan yang lebih panjang,” lanjut keterangan tersebut.

Sepanjang periode tinjauan Juni 2026, penyesuaian dilakukan hanya mencakup pembaruan klasifikasi industri, jumlah saham kuartalan, serta pemutakhiran daftar emiten berdasarkan kriteria ESG dan syariah. FTSE menyatakan akan terus memantau efektivitas reformasi transparansi sebelum memulihkan kembali proses pemeringkatan indeks secara penuh.

Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam penyesuaian indeks periode Mei 2026, mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes. Keenam saham terdiri atas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Meski dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, saham AMRT dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes. Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, yakni ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, TKIM, APIC, SSMS, TAPG, serta MSIN.

MSCI menyebut seluruh perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.

Investor ritel saat ini dinilai bisa menyesuaikan strategi dengan profil dan gaya trading masing-masing. Dalam kondisi pasar yang masih volatil, peluang jangka pendek dinilai masih ada terutama pada saham small cap dan third liner karena pergerakannya lebih dipengaruhi sentimen teknikal dan trading momentum jangka pendek.

Namun transaksi sebaiknya tetap menggunakan ukuran dana yang kecil untuk mengurangi risiko saat pasar bergerak tidak stabil. Sementara itu, untuk investor yang biasa melakukan swing trading pada saham berkapitalisasi besar hingga menengah, kondisi makro saat ini dinilai belum mendukung.

Tekanan dari arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, ketidakpastian global, serta sentimen rebalancing indeks masih membuat pergerakan saham-saham big caps cenderung berada dalam tekanan.

“Investor ritel dapat bersikap sesuai prefensi strategi investasinya masing-masing. Gambaran market saat ini masih cukup available untuk trading pendek di saham small cap atau third liner dengan size yang kecil. Namun, untuk tipikal swing trader di saham dengan kapitalisasi pasar besar hingga menengah secara momentum makro belum mendukung,” lanjut Faris.

Artikel terkait

Rekomendasi