Gejolak pasar modal Indonesia diproyeksikan berlanjut menjelang pengumuman hasil penyusunan ulang atau rebalancing indeks Juni 2026 dari FTSE Russell pada Sabtu (23/5/2026) pukul 05.00 WIB. Langkah ini diantisipasi pelaku pasar setelah enam saham domestik didepak dari indeks Morgan Stanley Capital (MSCI) pekan lalu, seperti dilansir dari Money.
Daftar awal penambahan dan penghapusan saham akan diterbitkan pada Jumat malam waktu AS atau Sabtu pagi WIB. Investor ritel diharapkan mencermati pengumuman ini karena hasilnya dinilai menjadi penentu arah pergerakan bursa pada awal pekan depan.
Sentimen negatif berpotensi membayangi pembukaan perdagangan hari Senin apabila hasil rebalancing lebih buruk dari ekspektasi pasar. Sebaliknya, pendekatan yang moderat dari FTSE Russell dapat menjadi katalis positif baru bagi pasar saham domestik.
Analis Indo Premier Sekuritas memberikan catatan mengenai kesiapan pelaku pasar dalam merespons hasil evaluasi berkala indeks global tersebut.
"Secara praktis, pasar tidak akan dapat bereaksi hingga pembukaan hari Senin. Itu memberi investor waktu akhir pekan untuk mencerna hasilnya, baik atau buruk. Setelah MSCI secara brutal menyingkirkan enam saham dari Indeks Standar minggu lalu, ekspektasi sudah rendah," ulas Indo Premier Sekuritas.
Evaluasi ini juga dibayangi oleh kebijakan FTSE Russell yang sebelumnya menandai sejumlah emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Selain itu, tinjauan penuh terhadap pasar Indonesia ditunda hingga September 2026.
Pihak sekuritas menambahkan bahwa pengumuman akhir pekan ini sangat krusial bagi pergerakan indeks di masa mendatang.
"Jika hasilnya lebih buruk dari yang diharapkan, seperti yang terjadi pada MSCI, pembukaan hari Senin bisa menjadi sesi yang sulit lagi. Jika FTSE menunjukkan pengekangan, itu mungkin memberikan katalis positif sejati pertama yang dilihat pasar Indonesia dalam beberapa minggu terakhir. Bagaimanapun, pasang alarm untuk Sabtu pagi," lanjut Indo Premier Sekuritas.
Di sisi lain, Maybank Sekuritas memproyeksikan adanya pengurangan bobot hingga penghapusan sejumlah saham dari indeks komparasi global tersebut.
"Saham DSSA dipastikan keluar setelah masuk ke dalam HSC list, sementara sejumlah saham Indonesia lainnya juga berisiko mengalami pengurangan bobot maupun penghapusan dari indeks FTSE," tulis Maybank Sekuritas.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah memublikasikan daftar emiten berkonsentrasi kepemilikan tinggi per 31 Muji atau Maret 2026 guna meningkatkan transparansi bagi para investor. Berdasarkan data otoritas bursa, terdapat sembilan perusahaan dengan tingkat kepemilikan kelompok tertentu di atas 95 persen.
| Nama Emiten | Kode Saham | Persentase Kepemilikan (%) |
|---|---|---|
| PT Lima Dua Lima Tiga Tbk | LUCY | 95,47 |
| PT Samator Indo Gas Tbk | AGII | 97,75 |
| PT Satria Mega Kencana Tbk | SOTS | 98,35 |
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH | 99,77 |
| PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | MGLV | 95,94 |
| PT Rockfields Properti Indonesia Tbk | ROCK | 99,85 |
| PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | RLCO | 95,35 |
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | 95,76 |
| PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN | 97,31 |