Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Kuat Saat Rupiah Melemah

Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Kuat Saat Rupiah Melemah

Pemerintah Indonesia menegaskan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6/2026).

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta bahwa indikator pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik yang terjaga menunjukkan posisi Indonesia masih cukup kuat menghadapi fluktuasi pasar tersebut.

"Yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian dari inflasi yang masih terjaga Insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," kata Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara.

Koordinasi intensif kini terus berjalan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan guna memantau pergerakan pasar sekaligus merumuskan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.

"Berkenaan dengan masalah rupiah (dan IHSG), kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," ucap Prasetyo Hadi.

Prasetyo Hadi menambahkan bahwa stabilitas domestik tetap menjadi prioritas utama pemantauan bersama tiga lembaga keuangan otoritas tersebut.

"Kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat gitu," ucap Prasetyo Hadi.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir kumparan.com pada pukul 14.35 WIB, mata uang Garuda merosot 76,50 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp 18.048 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan ditutup anjlok 1,70 persen ke level 5.839,785 dengan nilai transaksi Rp 25,33 triliun.

Pihak Bank Indonesia menjelaskan situasi depresiasi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak mentah dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang.

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN)," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia melalui keterangan tertulis yang dilansir detikFinance.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia turut memaparkan bahwa tren penurunan nilai mata uang ini terjadi secara merata di kawasan regional Asia akibat tekanan global yang serupa.

"Secara umum, pelemahan Rupiah juga masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 militar pada akhir April 2026," ujar Destry Damayanti.

"Kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi