Gelombang panas ekstrem memecahkan rekor di sejumlah kota besar Asia pada akhir Mei 2026, memicu lonjakan permintaan pendingin ruangan lebih awal dan memberikan tekanan besar pada stabilitas sistem energi kawasan.
Suhu udara di Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan, dan Asia Tenggara dilaporkan melonjak jauh di atas rata-rata jangka panjang. Kondisi ini diperkirakan terus bertahan selama beberapa minggu ke depan, sehingga memaksa perusahaan listrik meningkatkan pengoperasian pembangkit berbasis fosil.
Menurut data LSEG, suhu rata-rata di Seoul semenjak pertengahan Mei berada sekitar 13 persen lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang. Situasi tersebut mendorong Badan Meteorologi Korea (KMA) menetapkan status siaga berupa peringatan panas ekstrem.
KMA merilis peringatan tersebut ketika suhu maksimum yang dirasakan pada hari itu menyentuh angka 38 derajat Celcius atau saat suhu tertinggi melampaui 39 derajat Celcius. Sementara itu, suhu di Shanghai tercatat 12 persen lebih tinggi dari biasanya, dan Tokyo mengalami kenaikan sekitar 10 persen.
Kondisi serupa melanda India dengan suhu di beberapa wilayah menembus 40 derajat Celcius. Lonjakan konsumsi listrik untuk alat pendingin ini diproyeksikan memberi tekanan pada jaringan listrik global yang lebih besar dibanding dampak pengembangan pusat data internasional.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan persentase rumah di dunia yang menggunakan pendingin udara meningkat dari 36 persen pada 2022 menjadi 60 persen pada 2050. Hal ini didorong oleh perluasan ruang hunian yang pesat di wilayah terpanas Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, perusahaan listrik di Asia masih bergantung pada bahan bakar fosil. Pembangkit listrik tenaga batu bara diperkirakan menyumbang sekitar 52 persen listrik komersial Asia pada tahun 2025 dan tetap menjadi tulang punggung utama kawasan.
Di sisi lain, gas alam menyumbang sekitar 10 persen dari pasokan listrik Asia. Namun, fluktuasi harga serta gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel dengan Iran telah memperlambat pengembangan pembangkit listrik tenaga gas secara signifikan.
Ketergantungan ini berpotensi memicu lonjakan impor batu bara menjelang puncak musim panas. Kompetisi antarperusahaan energi di Asia dalam mengamankan pasokan bahan bakar diprediksi akan mendorong kenaikan harga batu bara dan gas global di tengah pasar yang tidak stabil.