Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis info gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,6 yang menggetarkan wilayah Pangandaran, Jawa Barat pada Kamis, 21 Mei 2026 pukul 04:04:56 WIB.
Pusat gempa bumi tersebut berada di laut sekitar 76 kilometer selatan Pangandaran dengan koordinat pada 8.34 Lintang Selatan dan 108.25 Bujur Timur. Getaran gempa ini dilaporkan meluas hingga dirasakan nyata oleh masyarakat di wilayah Tasikmalaya dengan skala III MMI, Garut skala III MMI, dan Ciamis skala II-III MMI.
Skala III MMI mengindikasikan bahwa guncangan dirasakan oleh beberapa orang tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan atau kecelakaan. Fenomena yang muncul meliputi benda-benda ringan yang digantung bergoyang serta jendela kaca yang ikut bergetar.
"Gempa dirasakan Magnitudo: 4,6 pada Kamis, 21 Mei 2026 04:04:56 WIB", tulis BMKG pada keterangan rilisnya.
Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa dalam sepekan terakhir di wilayah Indonesia telah terjadi aktivitas gempa signifikan yang dirasakan oleh masyarakat sebanyak 17 kali dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.
Sebelum peristiwa di Pangandaran, guncangan gempa dengan kekuatan yang sama yakni magnitudo 4,6 juga sempat mengejutkan warga Kota dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Minggu, 17 Mei 2026 sekitar pukul 22.15 WIB. Berdasarkan data sementara BMKG, episenter gempa Sukabumi tersebut berlokasi di koordinat 7,53 Lintang Selatan dan 106,69 Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 62 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman 25 kilometer.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data", tulis BMKG dalam informasi resminya.
Dampak dari guncangan di Sukabumi tersebut membuat sejumlah warga dilaporkan sempat panik dan spontan berhamburan keluar rumah karena merasakan getaran yang cukup kuat.
"Saya lagi tiduran sambil bermain ponsel, terasa besar guncangannya, spontan langsung bangun dan teriak gempa", ujar Rawin, salah seorang warga Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi kepada Kompas.com.
Rawin menambahkan bahwa dirinya langsung bergegas membuka pintu kamar untuk memberi tahu anak dan istrinya serta membuka gembok pintu gerbang rumah.
"Saya juga sambil buka pintu kamar, ngasih tahu istri dan anak-anak. Bahkan sudah buka gembok pintu gerbang, alhamdulillah gempa tidak berlanjut dan mudah-mudahan tidak ada gempa susulan", imbuh Rawin.
Kondisi serupa dirasakan oleh Saepul, warga Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, yang menceritakan bahwa getaran gempa berlangsung sekitar dua detik dan membuat kaca rumah ikut bergetar.
"Terasa sekitar dua detik lah, goncangannya cukup kuat kaca di rumah juga bergetar, seperti ada kendaraan berat yang melintas", kata Saepul.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan maupun korban jiwa akibat gempa bumi di Sukabumi tersebut, dan pihak media masih menunggu informasi susulan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Kabupaten Sukabumi.