Ribuan warga dari berbagai latar belakang agama memadati pelataran Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu (9/6/2026), untuk mengikuti acara jalan santai lintas agama. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Gereja Katedral guna memperingati hari jadi ke-219 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sekaligus mempererat persaudaraan antarumat beragama.
Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, para peserta hadir dengan mengenakan seragam olahraga hingga beragam pakaian adat seperti Jawa, Bali, Betawi, dan Bugis. Momentum ini menjadi ruang interaksi bagi umat Katolik, Protestan, Muslim, Hindu, Buddha, hingga Konghucu untuk memperkuat nilai toleransi di ibu kota.
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa pertemuan lintas agama ini telah menjadi agenda rutin dalam beberapa tahun terakhir sebagai bentuk syukur institusi.
"Dengan sengaja tidak ada syukuran macam-macam, tetapi syukur kita, kita wujudkan di dalam usaha kita untuk merawat dan mengembangkan persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan kita sebagai warga negara Indonesia," ucap Suharyo, Uskup Agung Jakarta.
Suharyo menegaskan bahwa format jalan santai dipilih agar masyarakat bisa saling mengenal dan menghargai secara langsung dalam suasana yang santai. Kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai wilayah juga menjadi kunci keberhasilan mobilisasi massa dalam acara tersebut.
Salah satu anggota paroki asal Matraman, Philip, mengaku berhasil mengajak puluhan tetangganya yang berbeda keyakinan untuk berpartisipasi dalam perayaan ini.
"Iya, sekitar 25 orang. Ada Katolik, Protestan, Muslim, Hindu, Buddha. Semua agama ada perwakilannya," ucap Philip, anggota paroki.
Philip menambahkan bahwa menjaga komunikasi sehari-hari dan saling berkunjung saat hari raya keagamaan memudahkannya mengajak warga lain. Ia berpendapat toleransi di Jakarta saat ini telah mencapai angka 75 persen meski masih ada tantangan dari kelompok tertentu.
"Tapi ada di titik-titik tertentu, ada kelompok-kelompok orang yang selalu tidak ingin bangsa kita itu kuat. Bangsa kita itu kuat hanya karena toleransi," tegas Philip, warga Katolik.
Pernyataan senada datang dari warga Muslim asal Jakarta, Sursie, yang menilai keikutsertaannya merupakan bentuk partisipasi aktif dalam mencintai sesama umat beragama.
"Iya, karena kita sama-sama beragama, saling mencintai, saling menghormati ya. Jadi kita partisipasi, semua saya masuk. Kalau ada acara apa kita pasti ikut," kata Sursie, warga Muslim.
Selain aspek kerukunan, Sursie yang telah berusia lanjut juga memanfaatkan kegiatan ini sebagai sarana berolahraga demi kesehatan tubuh. Sementara itu, tokoh agama dari Tanjung Priok, Saifuddin, berharap kegiatan serupa diperbanyak demi edukasi generasi muda.
"Saya kepengin itu kegiatan-kegiatan seperti ini diperbanyak, sehingga memberikan satu kesempatan kepada anak-anak muda biar paham bahwa beragama ini bukan salah satu penyebab daripada (terganggunya) kebersamaan," kata Saifuddin, tokoh agama.
Generasi muda turut memberikan perspektif positif, seperti yang disampaikan Fani yang mengenakan busana adat Bali sebagai bentuk penghormatan terhadap keragaman budaya Indonesia.
"Kalau yang aku lihat cukup baik ya. Di lingkunganku juga, di lingkungan kantor juga toleransinya sudah cukup baik. Kita juga masih saling bekerja sama seperti itu" tutur Fani, Gen Z.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar memberikan apresiasi tinggi dengan menyebut Jakarta sebagai kota terukun kedua di Asia Tenggara berdasarkan hasil survei terbaru.
"Di bawah kepemimpinan pak gubernur kita sekarang ini, Indonesia peringkatnya semakin sangat menggembirakan. Dalam satu survei yang terakhir, Jakarta adalah ibu kota kedua terukun damai di Asia Tenggara, mengalahkan yang lain-lain," tutur Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan rasa syukurnya atas kondisi Jakarta yang semakin aman dan nyaman bagi seluruh pemeluk agama melakukan kegiatannya.
"Dan saya bersyukur karena hampir semua hal yang dulu menjadi ketegangan, sekarang ini di Jakarta menjadi aman dan nyaman," kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pemerintah Provinsi Jakarta mencatat keberhasilan menyelenggarakan berbagai festival keagamaan kolosal seperti Christmas Carol, Nyepi, hingga Idulfitri sebagai indikator terjaganya kondusivitas kota.