Komisi XI DPR RI menggelar rapat kerja bersama Bank Indonesia terkait perkembangan nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan akibat dinamika ekonomi global pada Senin (18/5/2026).
Gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama yang menekan stabilitas mata uang domestik, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global yang berdampak langsung pada indikator makroekonomi berbagai negara.
"Februari ada perang Timur Tengah sehingga grafik kiri atas menunjukkan risiko geopolitiknya sangat tinggi," ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Tekanan dari situasi internasional tersebut memicu kenaikan komoditas energi dunia secara signifikan dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara global.
"Ini berdampak kepada pertumbuhan ekonomi global yang menurun, inflasinya tinggi, tapi harga minyak pada grafik itu meroket tinggi. Pernah Brent itu mencapai di atas 120 dan sekarang turun jadi 111. Ini juga terjadi di periode yang dulu kan, Bu Megawati pernah, Pak SBY dua kali, Pak Jokowi juga pernah," lanjut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Meski menghadapi tekanan global, bank sentral tetap optimistis terhadap prospek penguatan nilai tukar nasional pada kuartal berikutnya. Gubernur BI Perry juga meyakini rupiah masih stabil dan akan menguat pada Juli-Agustus.