Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai posisi nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued setelah sempat menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (6/5/2026).
Kondisi pasar spot menunjukkan volatilitas yang tinggi, namun otoritas moneter terus memantau pergerakan mata uang Garuda agar tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Pernyataan ini muncul menyusul tekanan terhadap mata uang regional yang dipicu oleh penguatan indeks dolar.
Meskipun terdapat tekanan eksternal, Bank Indonesia mencatat adanya ruang penguatan bagi rupiah seiring dengan penurunan indeks dolar AS ke posisi 97,71. Penurunan indeks tersebut memberikan kompensasi terhadap pelemahan nilai tukar yang terjadi sebelumnya.
Otoritas moneter juga memberikan penjelasan mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi mata uang nasional dalam beberapa waktu terakhir.
"Undervalued" kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Penilaian tersebut didasari oleh analisis terhadap kekuatan ekonomi domestik dan proyeksi arus modal yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri. Bank Indonesia berkomitmen untuk terus berada di pasar guna melakukan stabilisasi sesuai dengan mekanisme pasar yang berlaku.