Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengadakan pertemuan strategis dengan sejumlah investor di Singapura untuk membahas langkah penguatan stabilitas nilai tukar rupiah. Dilansir dari Suara, langkah ini diambil guna menjaga ketangguhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Dalam pertemuan tersebut, Perry menekankan komitmen kuat Bank Indonesia dalam merespons dinamika geopolitik, terutama di Timur Tengah. BI menerapkan strategi kebijakan moneter yang adaptif untuk memitigasi berbagai risiko eksternal yang muncul.
Perry menjelaskan bahwa otoritas moneter kini telah mengembangkan bauran kebijakan yang terintegrasi atau integrated monetary policy mix. Strategi ini dirancang untuk memastikan kondisi ekonomi tetap kondusif bagi para investor global.
"Strategi ini mencakup penyesuaian struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil (yield) instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menjaga daya tarik aset domestik dan memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh bagi para investor global," katanya.
Terdapat tiga pilar utama yang dijalankan Bank Indonesia saat ini untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Fokus pertama terletak pada kebijakan suku bunga yang bertujuan menjaga nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target sasaran.
Pilar kedua adalah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi rutin di pasar valuta asing. Langkah ini krusial untuk mencegah pelemahan rupiah yang berpotensi memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.
Selanjutnya, BI melakukan pengelolaan likuiditas domestik secara ketat demi menjamin kecukupan sistem keuangan nasional. Ketiga instrumen ini dioperasikan secara berbarengan untuk menghadapi dinamika pasar global yang berubah cepat.
"Ketiga instrumen ini dijalankan secara bersamaan dan saling melengkapi. Ini mencerminkan pendekatan kami yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global yang sangat cepat berubah," ujar Perry Warjiyo.
Sinergi antara otoritas moneter dan fiskal menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia. Berkat koordinasi erat antara Pemerintah dan BI, inflasi pada tahun 2026 diproyeksikan tetap terkendali pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen.
Pertumbuhan ekonomi nasional juga diprediksi tetap solid pada rentang 4,9 hingga 5,7 persen. Selain kebijakan moneter, BI memperkuat kebijakan makroprudensial dengan memberikan insentif likuiditas bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
Aspek digitalisasi sistem pembayaran turut dipercepat melalui pengembangan QRIS dan transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal atau Local Currency Transactions. Langkah ini bertujuan meningkatkan inklusi keuangan dan memperkuat infrastruktur pembayaran ritel.
Perry menegaskan bahwa fondasi fundamental yang kokoh dan kebijakan yang kredibel menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan. Stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.