Harga Alat Kesehatan Melonjak Picu Penurunan Omzet Pedagang Pasar Pramuka

Harga Alat Kesehatan Melonjak Picu Penurunan Omzet Pedagang Pasar Pramuka

Sejumlah pedagang di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, melaporkan penurunan pendapatan usaha akibat kenaikan harga berbagai alat kesehatan (alkes) pada Kamis (14/5/2026). Fenomena penurunan omzet ini dipicu oleh meningkatnya harga modal belanja dari distributor yang berdampak pada perubahan perilaku belanja konsumen.

Dilansir dari Megapolitan, ketegangan konflik di wilayah Timur Tengah ditengarai menjadi penyebab utama melambungnya harga komoditas ini. Sebagian besar produk alkes yang diperdagangkan merupakan barang impor dengan komposisi material berbahan dasar plastik.

Kondisi ini dikonfirmasi oleh Wati, salah satu pedagang di lokasi yang merasakan dampak langsung terhadap hasil penjualannya. Ia menyebutkan adanya hambatan bagi pembeli untuk melakukan transaksi karena harga yang kian mahal.

"Ada sedikit penurunan. Ya, paling sekitar dua persen," kata salah satu pedagang bernama Wati (45) ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (14/5/2026).

Selain Wati, pedagang lain bernama Yuli mencatat persentase penurunan yang lebih besar pada tokonya. Ia menjelaskan bahwa banyak calon pembeli yang akhirnya membatalkan rencana belanja setelah mengetahui fluktuasi harga di pasar.

"Iya, banyak pembeli yang enggak jadi. Omzet menurun sekitar 10 persen," kata dia di lokasi.

Yuli memberikan rincian bahwa produk sarung tangan nitrile mengalami lonjakan signifikan dari harga modal Rp40.000 menjadi Rp65.000 per boks. Selain itu, komoditas kursi roda juga mengalami penyesuaian modal dari Rp850.000 menjadi Rp900.000, yang kemudian dijual pedagang pada kisaran harga Rp1 juta.

Dampak paling berat dirasakan oleh Bara, seorang pedagang yang mengaku pendapatannya terpangkas drastis hingga separuh dari angka normal. Penegasan mengenai kondisi pasar ini ia sampaikan merujuk pada alat kesehatan sekali pakai.

"Iya, sangat terasa. Penurunannya bisa mencapai 50 persen," kata dia di lokasi.

Bara merinci bahwa produk berbahan plastik seperti apron atau celemek medis sekali pakai kini membutuhkan modal Rp115.000 dari sebelumnya hanya Rp85.000 hingga Rp90.000. Saat ini, ia harus melepas produk isi 50 lembar tersebut dengan harga jual Rp125.000 kepada pelanggan.

"Dulu harganya sekitar Rp 85.000 sampai Rp 90.000, sekarang modalnya sudah Rp 115.000 rupiah. Saya menjualnya Rp 125.000 untuk isi 50 lembar," kata Bara.

Artikel terkait

Rekomendasi