Harga Avtur Melonjak Picu Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Domestik

Harga Avtur Melonjak Picu Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Domestik

Lonjakan harga avtur mulai memberikan tekanan signifikan pada industri penerbangan domestik dan memicu kenaikan tarif tiket pesawat. Dilansir dari Ekonomi, situasi ini berisiko memperpanjang tren inflasi di sektor transportasi hingga Mei 2026.

Kenaikan biaya operasional yang tajam terjadi setelah harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menyentuh angka Rp27.357,54 per liter pada 1 Mei 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 16,16% secara bulanan dibandingkan April 2026.

Jika ditarik lebih jauh ke Maret 2026, kenaikan harga bahan bakar pesawat ini bahkan telah mencapai 100,32%. Kondisi serupa terjadi di wilayah lain seperti Denpasar dengan harga Rp29.149,47 per liter, dan Bandara Pattimura (AMQ) yang mencapai Rp29.438,85 per liter.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok transportasi menjadi kontributor utama inflasi bulanan pada April 2026. Sektor ini mengalami inflasi sebesar 0,99% dengan andil 0,12% terhadap total inflasi nasional yang berada di angka 0,13% mtm.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa tarif angkutan udara merupakan komoditas utama pendorong inflasi dengan kontribusi 0,11%.

"Inflasi disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dan juga harga bensin. Ini seiring dengan meningkatnya harga avtur dan beberapa jenis BBM nonsubsidi," ujarnya.

Ateng menilai penyesuaian harga avtur di berbagai bandara domestik dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah global sebagai dampak dari konflik geopolitik yang sedang berlangsung.

Tren kenaikan ini diprediksi masih akan berlanjut. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto memproyeksikan inflasi transportasi tetap tinggi pada Mei 2026 akibat kenaikan harga avtur terbaru.

"Karena bulan Mei harga avtur naik kurang lebih 16% yang diperkirakan harga tiket pesawat juga akan naik," katanya.

Bayu menyebut maskapai nasional saat ini menghadapi keterbatasan ruang gerak bisnis. Hal ini disebabkan regulasi terkait Tarif Batas Atas (TBA), fuel surcharge, dan harga avtur yang masih berada di bawah kendali pemerintah.

Sebagai strategi bertahan, maskapai mulai melakukan efisiensi ketat, termasuk dengan mengurangi frekuensi penerbangan. INACA pun meminta pemerintah untuk segera mempercepat revisi aturan TBA dan membuat mekanisme fuel surcharge lebih adaptif terhadap harga avtur bulanan.

"Dampaknya bagi maskapai ya masih bisa bertahan dengan efisiensi walaupun memasuki periode low season," ujarnya.

Upaya kenaikan tarif ini juga dibayangi oleh daya beli masyarakat yang belum pulih. Kenaikan harga tiket yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan menurunkan minat masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi udara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika harga avtur ini.

"Hal tersebut menjadi perhatian kami," ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) Alvin Lie berpendapat bahwa kenaikan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge tidak mungkin lagi dihindari oleh maskapai.

"Tidak ada pilihan lain, fuel surcharge harus naik lagi," katanya.

Alvin memprediksi besaran fuel surcharge berpotensi meningkat dari posisi saat ini sebesar 38% dari TBA menjadi 50% dari TBA. Selain beban bahan bakar, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.409 per dolar AS turut memperberat biaya operasional maskapai.

Dampak nyata mulai terlihat dari berkurangnya aktivitas penerbangan. Sejak April 2026, tercatat sekitar 117 rute domestik dan 615 jadwal penerbangan mengalami pengurangan frekuensi atau bahkan penghentian operasi sementara.

Sebagai contoh, rute Semarang—Jakarta yang dikelola Citilink kini hanya tersedia satu kali sehari, berkurang dari jadwal biasanya yang mencapai tiga kali sehari.

"Hari ini saya terbang Citilink dari Semarang ke Jakarta. Citilink yang biasanya layani rute ini tiga kali sehari, sekarang cuma satu kali sehari," tutur Alvin.

Kondisi ini kontras dengan penerbangan internasional yang lebih stabil karena mengikuti mekanisme pasar. Maskapai asing seperti T’way Air bahkan mulai membuka rute baru Jakarta—Incheon dengan harga tiket yang kompetitif di bawah Rp3 juta.

Head of Government Relations and Communications Indonesia AirAsia Eddy Krismeidi Soemawilaga mengakui bahwa kenaikan operasional ini memengaruhi industri secara umum, meski permintaan perjalanan di perusahaannya masih tergolong stabil.

"Kami juga terus melakukan efisiensi operasional dan evaluasi terhadap rute-rute dengan load factor yang kurang optimal untuk memastikan operasional tetap sehat dan berkelanjutan," katanya.

Eddy berharap pemerintah terus memberikan dukungan agar industri penerbangan tetap kompetitif menghadapi tekanan biaya global.

"Ke depan tentu kami berharap adanya dukungan berkelanjutan agar industri penerbangan dapat tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya operasional, termasuk avtur," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi