Sejumlah pedagang ayam potong di Pasar Baru Bekasi, Kecamatan Bekasi Timur, mengeluhkan lonjakan harga komoditas pangan yang terjadi pada Kamis (14/5/2026). Dilansir dari Megapolitan, kondisi kenaikan harga tersebut memicu penurunan omzet pedagang secara signifikan akibat berkurangnya jumlah kunjungan pembeli ke pasar tradisional.
Kenaikan harga yang terjadi dinilai sangat kontras dibandingkan harga normal sebelumnya. Salah satu pedagang, Nanang (53), mengungkapkan bahwa tren harga ayam potong saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalami penurunan dalam waktu dekat.
"Sekarang naiknya terus signifikan. Awalnya sekitar Rp 30.000 per kilogram, sekarang sampai Rp 35.000 per kilogram. Sudah beberapa waktu ini terus naik, belum turun-turun lagi," kata Nanang.
Pria yang telah menekuni profesi ini selama dua dekade tersebut menjelaskan dampak nyata dari sepinya pasar terhadap volume penjualannya. Saat ini, perolehan harian jauh dari angka yang pernah ia capai di masa lalu.
"Saya sudah hampir gulung tikar sebenarnya. Dulu bisa jual 350 ekor ayam per hari, sekarang cuma sekitar 30 ekor. Itu juga kadang enggak habis dan paling langganan saja yang beli," ujar Nanang.
Beban operasional juga menjadi persoalan tambahan bagi para pedagang di tengah lesunya daya beli masyarakat. Nanang menyebutkan bahwa biaya sewa tempat tidak berubah meskipun pendapatan mereka terus merosot.
"Walaupun omzet menurun, biaya sewa tetap jalan. Jadi sekarang gali lubang tutup lubang," kata Nanang.
Faktor lain yang menyebabkan sepinya area pasar adalah pergeseran perilaku belanja konsumen ke platform digital atau pedagang kaki lima di luar pasar. Kenaikan harga bahan pokok secara umum membuat pembeli lebih selektif dalam mengatur pengeluaran rumah tangga mereka.
"Kalau harga naik terus, pembeli jadi mikir. Biasanya beli banyak sekarang jadi sedikit. Pedagang juga serba susah karena harga dari sananya sudah mahal," ujar Nanang.
Persaingan dengan layanan belanja daring dan pedagang luar area pasar dianggap memperparah kondisi pasar tradisional. Masyarakat cenderung mencari alternatif yang lebih praktis serta menawarkan harga yang dianggap lebih kompetitif.
"Orang sekarang banyak cari yang murah di luar. Apalagi sekarang ada belanja online. Mereka bilang lebih hemat dan enggak perlu ke pasar," kata Nanang.
Keluhan serupa datang dari pedagang ayam lainnya, Hasan (35), yang mencatat fluktuasi harga mencapai titik tertinggi di angka Rp40.000 per kilogram. Hal ini mengakibatkan margin keuntungan pedagang semakin menyempit.
"Sekarang pembeli makin berkurang karena harga ayam naik terus. Dari yang awalnya cuma Rp 28.000, sekarang bisa Rp 40.000. Itupun untungnya udah tipis banget," ujar Hasan.
Hasan mengamati pola kenaikan harga yang biasanya terjadi menjelang hari besar keagamaan. Namun, ia menyayangkan fenomena harga yang sulit kembali ke posisi normal setelah masa perayaan berakhir.
"Kalau sudah naik pas hari besar, biasanya enggak turun lagi. Malah cenderung naik terus," kata Hasan.
Kesulitan untuk bertahan hidup sebagai pedagang menjadi kekhawatiran utama akibat ketidakseimbangan antara harga dari agen dan daya beli konsumen. Biaya harian terus berjalan tanpa diimbangi pemasukan yang memadai.
"Pedagang sekarang susah. Harga dari agen naik, pembeli juga berkurang," ujar Hasan.
Dampak kenaikan harga ini juga dirasakan oleh para pelaku usaha kuliner, seperti Agus (33), seorang penjual bubur. Selain ayam potong, kenaikan harga juga merambah pada komoditas lain seperti cabai dan bawang merah.
"Biasanya ayam satu kilo Rp 28.000 sampai Rp 30.000, sekarang bisa Rp 35.000 sampai Rp 40.000 tergantung jenis ayamnya," ujar Agus.
Untuk menyiasati lonjakan modal tersebut, Agus terpaksa memangkas volume pembelian bahan baku guna menghindari kerugian. Ia memilih tidak menaikkan harga jual kepada pelanggan demi menjaga loyalitas pembeli.
"Kalau harga jual dinaikkan takut pembeli kabur. Jadi sekarang paling ngurangin jumlah belanja bahan saja," kata Agus.