Harga Bahan Pokok di Pasar Baru Bekasi Mengalami Kenaikan Signifikan

Harga Bahan Pokok di Pasar Baru Bekasi Mengalami Kenaikan Signifikan

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Baru, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Kamis (14/5/2026), mulai dikeluhkan oleh para pedagang dan ibu rumah tangga. Kenaikan harga terjadi pada bahan pokok seperti cabai rawit merah, bawang, ayam potong, telur, hingga minyak goreng.

Kenaikan harga yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini memicu penurunan daya beli warga di lokasi. Dilansir dari Megapolitan, sejumlah konsumen mulai membatasi volume belanja mereka guna menyiasati pengeluaran dapur yang terus merangkak naik.

Agus, seorang penjual bubur yang berbelanja rutin di pasar tersebut, menjelaskan bahwa lonjakan harga paling signifikan ditemukan pada komoditas ayam potong, cabai, dan bawang. Kenaikan ini memaksa dirinya untuk memangkas jumlah pembelian bahan baku harian.

“Biasanya ayam satu kilo Rp 28.000 sampai Rp 30.000, sekarang bisa Rp 35.000 sampai Rp 40.000 tergantung jenis ayamnya,” ujar Agus saat ditemui di lokasi, Kamis (14/5/2026).

Kondisi tersebut membuat Agus hanya mampu membeli sekitar dua kilogram ayam untuk menekan modal dagangan agar tidak terlalu membengkak. Ia memilih tidak menaikkan harga jual dagangannya demi menjaga kesetiaan pelanggan.

“Kalau harga jual dinaikkan takut pembeli kabur. Jadi sekarang paling ngurangin jumlah belanja bahan saja,” kata dia.

Agus menambahkan bahwa meskipun ketersediaan stok pangan di pasar saat ini terpantau aman, fluktuasi harga tetap menyulitkan para pedagang kecil. Perubahan harga yang terjadi dalam hitungan minggu dinilai memberatkan operasional usaha mikro.

“Kalau stok masih aman, enggak kosong. Cuma harganya saja yang naik terus. Jadi pedagang kecil kayak saya yang berat,” ujar Agus.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Lanih, seorang ibu rumah tangga, yang menyebutkan harga bawang merah telah melampaui harga normal. Ia kini harus membagi anggaran belanja dengan lebih ketat agar kebutuhan lainnya tetap terpenuhi.

“Biasanya bawang merah Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per kilo, sekarang bisa sampai Rp 50.000,” ujar Lanih.

Guna mengatasi pembengkakan biaya hidup, Lanih memilih untuk membatasi pembelian bumbu dapur dan beralih membeli lauk pauk yang sudah matang. Langkah ini diambil agar pengeluaran rumah tangga miliknya tidak melebih batas anggaran harian.

“Sekarang jadi lebih irit. Kadang beli lauk matang aja supaya enggak terlalu banyak beli bumbu,” kata dia.

Lanih mengeluhkan hampir seluruh komponen kebutuhan dapur mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Ia mengaku terpaksa harus membeli kebutuhan pangan hanya dalam jumlah yang sangat diperlukan.

“Sekarang apa-apa naik. Jadi mau enggak mau harus ngurangin belanja dan beli seperlunya saja,” ujar dia.

Dahlia, seorang pengusaha katering, menuturkan bahwa hampir seluruh bahan produksi seperti beras hingga sayur mayur mengalami kenaikan antara Rp 2.000 hingga Rp 30.000. Hal ini menyebabkan margin keuntungan usahanya mengalami penyusutan.

“Sekarang semua bahan naik. Beras, ayam, telur, cabai, bawang, sampai sayur juga naik. Ada yang naik Rp 2.000, ada juga yang sampai Rp 30.000,” ujar Dahlia.

Dahlia menegaskan bahwa dirinya masih mempertahankan harga paket katering yang lama untuk menghindari risiko kehilangan klien. Strategi yang diterapkan saat ini adalah melakukan efisiensi pengeluaran dan pengurangan target keuntungan pribadi.

“Kalau harga katering dinaikkan takut pelanggan pindah. Jadi sekarang kami lebih ngatur pengeluaran dan ngurangin keuntungan dulu,” kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi