Harga batu bara global mengalami fluktuasi pada Selasa (13/5/2026) dengan kontrak Juni ditutup pada level US$ 135,8 per ton atau melemah 0,44 persen akibat penurunan permintaan dari China. Pelemahan ini terjadi di tengah ancaman krisis energi dunia pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta potensi fenomena cuaca El Nino.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, tren penurunan ini memutus penguatan sebesar 1,45 persen yang terjadi pada Senin sebelumnya. Penurunan impor batu bara China pada April 2026 yang mencapai 33,08 juta ton menjadi faktor utama penahan laju harga di pasar termal.
Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli, menjelaskan bahwa kenaikan harga batu bara saat ini dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak bumi akibat konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian pasokan energi melalui Selat Hormuz membuat banyak negara kembali memperkuat ketahanan energi mereka menggunakan batu bara.
"Selat Hormuz berkontribusi sekitar 20% dari supply energi global. Beberapa negara sudah meningkatkan pemakaian batubara untuk ketahanan energinya, terutama listrik yang dikonsumsi masyarakat dan industri," ujar Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Rizal juga mengingatkan pemerintah untuk tetap mengamankan kewajiban pasar domestik (DMO) agar kebutuhan industri strategis tetap terpenuhi di tengah tingginya daya tarik ekspor.
"Yang harus dipastikan adalah kebutuhan DMO harus diamankan terutama untuk kelistrikan dan industri lainnya jangan sampai kekurangan pasokan batubara. Harga global naik tentu saja akan menjadi daya tarik penambang untuk melakukan ekspor sebanyak-banyaknya," tegas Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Ia menambahkan bahwa momentum kenaikan harga ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara melalui penambahan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga batubara ini untuk meningkatkan pendapatan negara dengan menaikkan kuota produksi," tutur Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Menurut proyeksi Perhapi, kuota produksi nasional tahun 2026 berpotensi meningkat dari target awal 600 juta ton menjadi 700 juta ton.
"Pemerintah awalnya menetapkan kuota di sekitar 600 juta ton. Forecast kami ini bisa sampai 700 juta ton kuota produksi tahun 2026," pungkas Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Pakar energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai komoditas yang sering dijuluki 'emas hitam' ini selalu menjadi pilihan utama saat harga minyak mentah melambung tinggi. Tren ini terlihat dari kebijakan negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan yang mulai melonggarkan batasan penggunaan PLTU demi menjaga keamanan energi nasional.
โBatu bara akan selalu menjadi primadona ketika harga minyak meroket,โ kata Yayan Satyakti, Pakar Energi Universitas Padjadjaran.
Sementara itu, lembaga UBS memperingatkan kemungkinan munculnya fenomena "super El Nino" pada pertengahan 2026 yang dapat memicu gelombang panas di Asia. Kondisi ini diprediksi akan meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin udara, sehingga mendongkrak permintaan impor batu bara global.