Harga batubara mengalami kenaikan hingga mencapai level US$ 148 per ton pada Rabu (3/6) akibat didorong oleh faktor fundamental berupa aktivitas manufaktur serta permintaan sektor kelistrikan di kawasan Asia, khususnya China.
Penguatan nilai komoditas tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,21 persen jika dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya yang berada di angka US$ 144,80 per ton, sebagaimana dilansir dari Investasi berdasarkan data Bloomberg.
Kondisi pergerakan harga batubara saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan domestik, sehingga ruang untuk lonjakan harga yang agresif dinilai masih cukup terbatas.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan bahwa pergerakan komoditas ini tidak terlalu responsif terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah karena pusat produksi dan konsumsi utamanya berada di wilayah Asia-Pasifik.
"Pergerakan batubara lebih banyak ditentukan oleh fundamental permintaan utilitas dan manufaktur di Asia. Di sisi lain, produksi domestik yang kuat di negara-negara konsumen utama serta transisi energi yang terus berlangsung membuat kenaikan harga tidak terlalu agresif," ujar Wahyu Laksono, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com.
Ia menambahkan bahwa pasokan global yang memadai dari negara produsen besar seperti China, India, Indonesia, dan Australia turut menjaga kestabilan pasar dari risiko kepanikan yang berlebihan.
"Sektor pembangkit listrik masih akan menopang harga dasar batu bara, tetapi kapasitas pasokan global yang memadai menjadi faktor yang mencegah lonjakan harga secara ekstrem," kata Wahyu Laksono, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com.
Rentang harga batubara untuk beberapa bulan ke depan diproyeksikan bergerak stabil dalam fase konsolidasi antara US$ 135 hingga US$ 155 per ton, sementara rata-rata keseluruhan tahun ini diperkirakan berada di kisaran US$ 135 per ton.
Bagi Indonesia, bertahannya tingkat harga ini menguntungkan kinerja ekspor, namun keuntungan tersebut berisiko tergerus akibat peningkatan biaya impor minyak mentah global.