Lonjakan Harga BBM AS Pangkas Penjualan Ritel Warga

Lonjakan Harga BBM AS Pangkas Penjualan Ritel Warga

Pembelian kebutuhan rumah tangga oleh warga Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan akibat lonjakan signifikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Berdasarkan data awal Mei 2026, harga rata-rata bensin di negara tersebut bahkan telah menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Seperti dilansir dari Detik Finance yang mengutip CNN pada Minggu (17/5/2026), harga rata-rata bensin di AS menembus angka US$ 4,30 atau setara dengan Rp 74.420 per galon (3,78 liter), yang berarti sekitar Rp 19.687 per liter. Situasi ini memaksa masyarakat setempat memprioritaskan pemenuhan kebutuhan bahan bakar dan mengorbankan belanja keperluan harian mereka.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada sektor perdagangan dengan melambatnya pertumbuhan penjualan ritel secara drastis. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel hanya tumbuh sebesar 0,5% pada April 2026, mengalami penurunan tajam dibandingkan perolehan bulan Maret 2026 yang sempat mencapai 1,6%.

Kemerosotan performa ini dipicu oleh lesunya angka penjualan di berbagai sektor toko kebutuhan harian masyarakat. Data resmi menunjukkan penurunan terjadi pada toko furnitur sebesar -2%, dealer mobil -0,5%, toko serba ada untuk kebutuhan harian -3,2%, serta toko pakaian yang minus 1,5%.

Sektor pengisian bahan bakar juga tidak luput dari tren penurunan performa perdagangan ini. Penjualan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tercatat hanya tumbuh sebesar 2,8% pada bulan April, yang mana angka ini merosot jauh dari pertumbuhan bulan Maret yang mampu mencapai 13,7%.

Berbagai hasil jajak pendapat memperlihatkan peningkatan rasa frustrasi konsumen di AS terhadap lonjakan harga bensin akibat ketegangan geopolitik tersebut. Salah satunya terlihat dari hasil survei konsumen terbaru Universitas Michigan yang menyatakan bahwa masyarakat menilai perekonomian AS berpotensi anjlok akibat penurunan konsumsi imbas tingginya biaya kebutuhan hidup.

Artikel terkait

Rekomendasi