Pasar kripto global menunjukkan tren penguatan moderat pada Jumat, 15 Mei 2026, dengan Bitcoin (BTC) berhasil bertahan di level US$ 81.075 atau sekitar Rp 1,42 miliar di tengah fluktuasi ekonomi Amerika Serikat. Data CoinMarketCap mencatat kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan naik 2,21 persen menjadi US$ 2,70 triliun dalam 24 jam terakhir.
Kenaikan Bitcoin sebesar 2,26 persen dalam sehari terjadi saat pasar saham Nasdaq sempat anjlok hingga 2 persen akibat laporan inflasi konsumen (CPI) AS April 2026 yang menyentuh 3,8 persen. Selain Bitcoin, sejumlah altcoin utama seperti Ethereum (ETH) diperdagangkan pada Rp 40,1 juta, sementara Cardano (ADA) dan Solana (SOL) juga masing-masing menguat 2,70 persen dan 1,61 persen.
Analis Kripto Reku, Fahmi Almuttaqin, memberikan pandangannya terkait ketidakpastian pasar yang dipicu oleh lonjakan harga energi dan penundaan pemangkasan suku bunga The Fed hingga 2027.
"Namun, jika mengacu pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dalam rilis laporan keuangan terkini, pertumbuhan di sektor-sektor strategis kemungkinan besar masih dapat dipertahankan," ujar Fahmi.
Ia juga menyoroti fenomena menarik di mana Bitcoin tidak lagi bergerak searah dengan indeks saham Wall Street, melainkan lebih mengikuti yield US Treasury sebagai bentuk diversifikasi aset.
"Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor," jelas Fahmi.
Fahmi menekankan pentingnya mencermati tiga katalis besar pekan ini, termasuk penunjukan Ketua Fed baru dan negosiasi perdagangan AS-Tiongkok.
"Tiga katalis ini masing-masing memiliki potensi dampak yang besar dan arahnya masih terbuka. Investor perlu mencermati perkembangannya dengan seksama," tutur Fahmi.
Bitcoin dianggap menunjukkan posisi strategis sebagai aset lindung nilai terhadap erosi daya beli mata uang fiat, terutama saat rupiah melemah melampaui Rp 17.500 per dolar AS.
"Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat," tukas Fahmi.
Di sisi lain, laporan dari Coinmarketcapnews.com menyebutkan bahwa kondisi pasar yang bergejolak memaksa sejumlah perusahaan besar menunda langkah IPO mereka. Consensys, perusahaan di balik MetaMask, resmi menunda penawaran saham perdana hingga 2026 setelah sebelumnya berencana mendaftar ke SEC pada Februari lalu. Langkah serupa juga diambil oleh bursa kripto Kraken dan produsen dompet perangkat keras Ledger.
| Aset Kripto | Harga (IDR) | Perubahan 24 Jam |
|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | Rp 1,42 Miliar | +2,26% |
| Ethereum (ETH) | Rp 40,1 Juta | +1,67% |
| Binance Coin (BNB) | Rp 11,9 Juta | +1,36% |
| Solana (SOL) | Rp 1,61 Juta | +1,61% |
| XRP | Rp 26.101 | +4,66% |
| Dogecoin (DOGE) | Rp 2.024 | +2,50% |