Pasar kripto mengalami tekanan besar yang memicu penurunan harga Bitcoin dan Ethereum akibat ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat pada Selasa (26/5/2026).
Fluktuasi tinggi ini juga didorong oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya sikap wait and see para investor global terhadap aset berisiko, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 16.49 WIB, nilai Bitcoin merosot 3,13 persen dalam sehari ke posisi US$ 73.425 dan melemah 5,42 persen dalam sepekan.
Pada saat yang sama, harga Ethereum terkoreksi sebesar 4,35 persen menjadi US$ 1.991 dengan akumulasi pelemahan mingguan yang mencapai 6,40 persen.
Kombinasi faktor global dan sentimen risk-off dari para pemodal dinilai menjadi pemicu utama depresiasi harga aset digital terkemuka tersebut sepanjang tahun ini.
"Dari sisi makro, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed yang cenderung tetap tinggi lebih lama, sehingga likuiditas di aset berisiko termasuk kripto menjadi lebih terbatas," ujar Antony Kusuma, Vice President Indodax.
Faktor lain seperti ketidakpastian kondisi geopolitik, pergerakan indeks dolar AS, serta aksi profit taking setelah lonjakan besar pada tahun 2025 turut memberatkan pergerakan harga.
Katalis baru kini dinantikan oleh pasar untuk mendorong kembali aktivitas ekosistem dan aliran dana institusional, terutama bagi Ethereum yang menghadapi tekanan relatif lebih besar dibanding Bitcoin.
Antony memperkirakan bahwa pergerakan pasar kripto masih akan fluktuatif menjelang kuartal III-2026 karena sangat sensitif terhadap data inflasi Amerika Serikat dan kebijakan suku bunga global.
Kendati demikian, peluang pemulihan dinilai tetap terbuka lebar mengingat minat dari para investor institusional terhadap aset digital saat ini terpantau masih cukup terjaga.
Konsensus pasar memproyeksikan harga Bitcoin akan bergerak pada rentang US$ 65.000 hingga US$ 90.000, sedangkan Ethereum diperkirakan berada di kisaran US$ 2.000 sampai US$ 3.500 pada kuartal III-2026.
Para penanam modal disarankan untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat serta metode investasi bertahap atau dollar cost averaging demi menghadapi volatilitas alami ini.
Beberapa poin krusial yang tetap harus diawasi investor meliputi perkembangan regulasi domestik dan global, pergerakan inflasi, arus dana institusi, serta pemanfaatan riil dari proyek blockchain.