Harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 16 persen secara year to date hingga Jumat (29/5/2026) pukul 17.49 WIB akibat kombinasi tekanan konflik geopolitik Timur Tengah, kondisi makroekonomi global, dan peralihan dana investasi ke sektor kecerdasan buatan.
Penurunan nilai aset kripto tersebut tercatat mencapai 4,80 persen dalam sepekan terakhir sehingga posisinya berada pada level US$ 73.528, sebagaimana dilansir dari Investasi berdasarkan data Coin Market Cap. Faktor ketidakpastian global ini memicu perubahan perilaku para pelaku pasar modal.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan bahwa memanasnya kembali konflik antara Iran dan Israel sejak awal tahun menjadi pemicu utama yang mempengaruhi sentimen pasar kripto saat ini.
"Ketidakpastian ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto," ujar Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Konflik regional tersebut juga memicu kenaikan harga minyak mentah dunia yang kemudian mendorong pembengkakan biaya transportasi serta produksi. Dampak berantainya memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko kemunculan stagflasi yang menekan daya beli masyarakat luas.
Investasi global kini juga mulai berpindah ke sektor komputasi awan, pusat data, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat dalam siklus ekonomi saat ini. Kendati demikian, karakteristik kelangkaan Bitcoin dengan suplai maksimal 21 juta koin dinilai tetap menarik bagi investasi jangka panjang.
"Namun jika berbicara dalam jangka pendek, kondisinya masih cukup menantang. Secara teknikal maupun sentimen pasar, tekanan terhadap Bitcoin masih relatif besar," ungkap Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Banyak pemilik Bitcoin kini berada dalam posisi merugi atau underwater karena harga bergerak di bawah area akumulasi signifikan antara US$ 72.500 hingga US$ 76.000. Kondisi ini memperbesar potensi tekanan jual jangka pendek saat harga mendekati titik impas investor.
"Selama tekanan makroekonomi dan geopolitik belum mereda, volatilitas Bitcoin kemungkinan masih akan tetap tinggi," terang Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Pergerakan aset kripto ini dalam jangka menengah berpeluang menuju level US$ 80.000 apabila kondisi global stabil. Di sisi lain, regulasi internasional juga tengah mengalami perkembangan melalui dorongan Clarity Act di Senat Amerika Serikat.
"Jika nantinya disahkan penuh, regulasi ini berpotensi memberikan legal clarity terhadap perdagangan aset digital, penerbitan token, hingga pengawasan terhadap protokol DeFi," ucap Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Langkah politik di Amerika Serikat tersebut dipandang positif karena memperjelas pembagian wewenang antara SEC dan CFTC serta mampu meningkatkan kepercayaan dari investor institusi. Kebijakan regulasi dari negara tersebut kerap menjadi acuan global bagi pertumbuhan sektor aset terelementasi maupun infrastruktur koin stabil.
"Meski begitu, pasar masih akan mencermati implementasi teknisnya, terutama terkait stablecoin, perpajakan, dan standar pengawasan DeFi ke depan," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.