Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam mencatatkan kenaikan sebesar 9,32 persen sepanjang tahun berjalan hingga Rabu, 6 Mei 2026. Berdasarkan data dari Logam Mulia yang dikutip dari Market, nilai buyback mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, harga buyback emas Antam melonjak sebesar Rp35.000, sehingga kini berada di level Rp2.580.000 per gram. Angka ini mencerminkan apresiasi harga yang cukup kuat bagi para pemegang logam mulia sejak awal tahun 2026.
Meskipun mengalami tren positif, posisi harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH). Rekor harga buyback tertinggi tersebut pernah menyentuh angka Rp2.989.000 per gram yang terjadi pada akhir Januari 2026.
Harga buyback sendiri merupakan standar nilai yang ditetapkan oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk membeli kembali emas dari masyarakat. Nilai acuan ini berlaku untuk ukuran satu gram dan pergerakannya biasanya selaras dengan fluktuasi emas di pasar internasional.
Transaksi buyback dilakukan saat pemilik menjual kembali koleksi emasnya, baik berupa logam mulia batangan maupun perhiasan. Secara umum, nominal yang ditetapkan untuk buyback memang dipatok lebih rendah dibandingkan dengan harga jual ritel pada saat yang sama.
Keuntungan dari investasi ini biasanya didapatkan ketika terdapat selisih positif yang cukup besar antara harga beli di masa lalu dengan harga buyback saat ini. Namun, investor perlu memperhatikan kewajiban perpajakan yang menyertai transaksi tersebut.
Sesuai aturan PMK No 34/PMK.10/2017, setiap transaksi jual kembali emas ke Antam dengan nilai di atas Rp10 juta akan dikenakan pajak penghasilan. Pemegang NPWP dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen, sementara bagi non-NPWP dikenakan tarif 3 persen yang dipotong langsung dari total nilai transaksi.
Di pasar internasional, harga emas menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengamati adanya potensi penguatan harga emas dunia dalam jangka pendek setelah fase koreksi yang cukup dalam.
Berdasarkan analisis teknikal pada timeframe H4, pergerakan XAU/USD mulai memperlihatkan tanda-tanda meredanya tekanan jual. Geraldo menilai kondisi ini membuka peluang bagi harga untuk bergerak naik dalam fase koreksi.
"Secara teknikal, harga emas saat ini terlihat mulai tertahan di area support kuat di level US$4.510. Level ini menjadi titik penting yang mampu menahan laju penurunan harga, sehingga memberikan indikasi bahwa tekanan bearish mulai mereda. Ketika harga mampu bertahan di area support yang kuat, hal ini sering kali menjadi awal dari potensi pembalikan arah atau setidaknya koreksi naik," kata Geraldo.
Dinamika pasar ini dianggap sebagai hal yang lumrah, di mana harga aset tidak bergerak searah secara terus-menerus. Kenaikan yang diprediksi saat ini dikategorikan sebagai secondary trend atau fase koreksi setelah pelemahan sebelumnya.
"Dalam proyeksi jangka pendek, harga emas diperkirakan akan bergerak menuju area resistance terdekat di kisaran 4.560 hingga 4.588. Area ini menjadi target awal yang akan diuji oleh pasar dalam fase kenaikan. Selain itu, level tersebut juga berdekatan dengan indikator Moving Average 21 dan 34, yang berfungsi sebagai resistance dinamis dan berpotensi menahan kenaikan harga," ujar Geraldo.