Kenaikan harga daging kambing mulai terjadi di sejumlah pasar tradisional Jakarta dan kenaikan harga sapi kurban memicu penurunan tren penjualan di Kabupaten Bekasi pada Jumat (8/5) menjelang perayaan Iduladha 2026.
Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, harga daging kambing telah mencapai Rp155.000 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000 dari harga normal menurut pantauan kumparan.
Pedagang daging kambing di Pasar Minggu, Ano, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini sudah terasa sejak awal bulan Mei akibat kenaikan harga dari pihak pemasok.
"Rp 155.000 kalau daging kambing sekilo, Rp 150.000 genepin nggak apa-apa," kata Ano.
Pihaknya menduga bahwa tingginya permintaan menjelang hari raya kurban menjadi pemicu utama kenaikan harga tersebut.
"Iya [naik] dari awal Mei, dari supplier-nya," sambung Ano.
Ano juga menjual komoditas lain seperti iga kambing seharga Rp120.000 per kilogram, sementara harga hati kambing masih stabil pada angka Rp100.000 per kilogram.
"Mau kurban kayaknya, lebaran haji, [harga] kambing ikut naik. Pastinya [alasan harga naik] nggak tahu," kata Ano.
Kondisi serupa terjadi di Pasar Lenteng Agung di mana daging kambing dijual seharga Rp150.000 per kilogram, naik sekitar Rp5.000 dari harga sebelumnya menurut pedagang bernama Kadir.
"Rp 150.000 per kilo. Besar-besar, montok dagingnya," ujar Kadir.
Kadir menyebutkan bahwa penyesuaian harga ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biaya pengiriman barang yang meningkat.
"Naik Rp 5.000, ya, biaya logistik aja, kan, lagi naik," kata Kadir.
Meskipun harga daging naik, Kadir masih mempertahankan harga iga kambing di level Rp120.000 per kilogram sejak awal tahun ini.
"Iga 120.000 aja, empuk ini," ujar Kadir.
Data Info Harga Pangan Jakarta mencatat rata-rata harga daging kambing berada di level Rp153.438 per kilogram, sedangkan harga telur ayam di Pasar Lenteng Agung terpantau stabil di angka Rp28.000 per kilogram meskipun harga dari pemasok naik.
Berbeda dengan komoditas daging konsumsi, penjualan sapi kurban di Kabupaten Bekasi justru mengalami kelesuan akibat berkurangnya populasi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Pemilik Ghita Farmer di Cikarang, Budiono, menyampaikan bahwa kenaikan harga sapi yang signifikan membuat dirinya harus mengurangi stok dari 400 ekor tahun lalu menjadi hanya 150 ekor tahun ini.
"Permintaan sapi kurban sih masih tetap ada, terutama dari pelanggan tetap. Namun tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya," kata Budiono.
Menurutnya, harga sapi Bali saat ini melonjak hingga Rp58.000 per kilogram dari sebelumnya Rp48.000 per kilogram akibat dampak penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Kami tidak stok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini sudah lebih dari 100 ekor yang terjual," ujarnya.
Budiono menambahkan bahwa harga sapi Limosin bobot 500 kilogram kini mencapai Rp33-35 juta, naik dari harga tahun lalu yang berada di angka Rp31-33 juta.
"Harga sapi Bali tahun lalu sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram di Bali. Menurut info karena populasi berkurang setelah merebak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa waktu lalu," katanya.
Banyaknya aksi pemutusan hubungan kerja di sektor industri juga dinilai menjadi penyebab berkurangnya warga yang melakukan iuran kurban secara kolektif.
"Biasanya di perumahan, masjid atau mushalla ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi," katanya.
Budiono melihat jumlah pedagang musiman di pinggir jalan mulai berkurang karena tingginya biaya operasional dan risiko kerugian yang membayangi.
"Secara keseluruhan sepertinya juga turun ya karena saya melihat jumlah pedagang sapi musiman di pinggir jalan mulai berkurang. Kemungkinan karena harga sapi dan biaya operasional yang tinggi," ujarnya.
Untuk menjaga kualitas, Ghita Farmer memastikan seluruh hewan kurban yang mereka jual telah menjalani vaksinasi mandiri serta memenuhi syarat kesehatan dari daerah asal.
"Kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan sapi tetap kami jaga," kata Budiono.