Harga Emas Antam 17 Mei 2026 Diprediksi Tertekan Penguatan Dolar AS

Harga Emas Antam 17 Mei 2026 Diprediksi Tertekan Penguatan Dolar AS

Prospek pergerakan harga emas dan logam mulia diproyeksikan mengalami tekanan pada perdagangan pekan depan. Tekanan ini dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta lonjakan harga minyak mentah di pasar global.

Dikutip dari Investasi, data Bloomberg menunjukkan indeks dolar AS (DXY) bertengger di posisi 99,28 pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Pada saat yang sama, minyak mentah Brent dihargai US$ 109,26 per barel dan jenis WTI bertengger di level US$ 105,42 per barel.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan indeks dolar AS masih berpeluang menguat pekan depan dengan area support di 97,300 dan resistance di 101,100. Lonjakan ini diperkirakan diikuti minyak WTI yang bergerak dengan support US$ 91,60 dan resistance US$ 110,60 per barel.

Kombinasi performa dolar AS dan harga minyak mentah diakui menjadi faktor dominan yang mendikte pergerakan harga emas global dalam jangka pendek. Pada akhir pekan lalu, emas dunia bertengger di level US$ 4.538 per ons troi, sementara logam mulia Antam mencapai Rp 2.769.000 per gram.

Ibrahim Assuaibi memetakan sejumlah level teknikal penting untuk pergerakan harga komoditas ini ke depan jika tren penurunan atau penguatan terus berlanjut.

"Apabila melemah, support pertama itu di US$ 4.444 per ons troi. Kemudian untuk logam mulianya kemungkinan besar turun Rp 20.000 di Rp 2.749.000 per gram," ujar Ibrahim pada Minggu (17/5/2026).

Jika tekanan berlanjut, titik support kedua diproyeksikan berada pada level US$ 4.307 per ons troi yang dapat menyeret harga logam mulia domestik turun ke posisi Rp 2.685.000 per gram.

Sebaliknya, jika komoditas ini berhasil rebound, tingkat resistance pertama diproyeksikan mencapai US$ 4.639 per ons troi dengan harga logam mulia Antam berpotensi menyentuh Rp 2.789.000 per gram.

Selanjutnya, target resistance kedua diperkirakan berada pada level US$ 4.796 per ons troi atau mendekati US$ 4.800 per ons troi, yang berpeluang mengerek harga logam mulia ke Rp 2.880.000 per gram.

"Jadi untuk mencapai level Rp 2.900.000 kemungkinan sangat berat sekali," kata Ibrahim.

Pengaruh Geopolitik Timur Tengah dan Kebijakan Moneter

Faktor geopolitik di Timur Tengah saat ini memegang peranan besar, terutama mengenai prospek kesepakatan pembukaan Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran.

Apabila kesepakatan tersebut terwujud dan jalur pelayaran Selat Hormuz kembali beroperasi, ketegangan politik di kawasan tersebut diperkirakan bakal mereda. Namun, eskalasi konflik antara Iran dan Israel serta keterlibatan AS berisiko memicu volatilitas harga yang lebih tinggi.

Faktor eksternal lain yang dipantau pasar adalah hubungan dagang AS dan China setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dinilai membuka peluang meredanya perang dagang.

"Ini kemungkinan besar akan menenangkan pasar," ujar Ibrahim.

Dari sektor moneter, inflasi AS yang tetap tinggi akibat lonjakan harga energi berpotensi mendorong bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi. Langkah pengetatan moneter secara serentak oleh bank sentral global ini berisiko menekan harga emas lebih dalam.

Meski demikian, permintaan fisik dari sejumlah bank sentral global seperti China, India, negara-negara Eropa, hingga Amerika Latin terpantau masih sangat kuat saat terjadi koreksi harga.

"Pada saat harga logam mulia relatif lebih murah, ini akan dimanfaatkan oleh bank sentral global untuk melakukan pembelian," kata Ibrahim.

Di pasar domestik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai akan menahan laju penurunan harga logam mulia. Mata uang rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada pekan depan, sehingga momentum koreksi ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berinvestasi jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi