Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami penurunan tajam sebesar Rp31.000 menjadi Rp2.754.000 per gram pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, akibat terseret koreksi harga komoditas global.
Penurunan nilai investasi ini menjadi tren negatif selama empat hari perdagangan beruntun dengan akumulasi pelemahan mencapai Rp49.000 per gram, berdasarkan data situs resmi Logam Mulia.
Kondisi serupa melanda harga pembelian kembali atau buyback emas Antam yang merosot Rp37.000 ke level Rp2.557.000 per gram, sehingga memperlebar selisih harga atau spread menjadi Rp197.000 per gram.
Sementara itu, tren penurunan harga juga terjadi pada produk emas yang ditawarkan di Pegadaian untuk jenama UBS, Antam, dan Galeri24 yang masing-masing terkoreksi menjadi Rp2.825.000, Rp2.897.000, dan Rp2.774.000 per gram.
Dilansir dari Refinitiv, pergerakan ini selaras dengan harga emas dunia di pasar spot yang ditutup melemah 1,09 persen ke posisi 4.457,03 dolar AS per troy ons akibat sentimen kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
Tekanan terhadap emas dipicu oleh kekhawatiran inflasi global menyusul konflik bersenjata di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang mendongkrak harga minyak mentah Brent hingga 31 persen.
Pihak pasar saat ini mengantisipasi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun demi meredam lonjakan inflasi energi tersebut.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil secara berkala dinilai menjadi kurang menarik bagi para pelaku pasar ketika tingkat suku bunga tinggi diproyeksikan bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Meskipun demikian, ketegangan sempat sedikit mereda setelah televisi pemerintah Iran melaporkan adanya draf memo kesepahaman awal dengan Amerika Serikat untuk memulihkan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
"Masih ada sedikit optimisme di pasar sebelumnya, tetapi semakin lama konflik berlangsung, optimisme tersebut mulai memudar," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus analis senior logam mulia di Zaner Metals.
Menurut analisis Peter Grant, berlarutnya konflik tersebut secara langsung berkontribusi memicu kecemasan terhadap laju inflasi di tingkat global.
Di sisi lain, otoritas moneter Amerika Serikat menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menjaga kestabilan ekonomi dari ancaman lonjakan harga-harga komoditas.
“Masih terlalu dini untuk memastikan kapan perubahan kebijakan suku bunga akan dilakukan,” kata Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Minneapolis.
Neel Kashkari menambahkan bahwa bank sentral Amerika Serikat harus tetap fokus dalam menahan risiko inflasi yang terindikasi mulai merangkak naik.
Investor kini sedang mengantisipasi perilisan beberapa indikator ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE April yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat.